Minggu, 08 November 2020

Materi dan contoh unsur intrinsik novel beserta kutipan dan sinopsis novel Makrifat Cinta

 

Ringkasan Materi Unsur Intrinsik

1.tema

Tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya.

2. setting/lattar

Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa serta memiliki fungsi fisik dan psikologis

3. Alur atau Plot

Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita

4. Penokohan dan Perwatakan

Penokohan atau tokoh mengandung pengertian pelaku mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita

Perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita baik keadaan lahirnya maupun keadaan batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, dan adapt-istiadatnya

5. Sudut Pandang

 Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita   yang dipaparkannya

6. amanat

Amanat adalah pesan atau nasehat yang terdapat dalam karya sastra

7. gaya bahasa

Gaya adalah cara seseorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembacanya



IDENTITAS NOVEL

Judul               : Makrifat Cinta (Novel Spiritual Pembangun Iman)

Karya              : Taufiqurrahman al-Azizy

Tahun terbit     : 2007

Penerbit           : DIVA Press

Tebal Novel     : 399 halaman

Sinopsis

 

            Seorang pemuda berusia 25 tahun, memiliki akhlak yang mulia, mampu melewati  kegelisahan hati mencari cinta yang hakiki. Pemuda yang hafal al-Qur’an ini mengalami kegundahan hati. Hal ini dikarenakan amanah dari Kiai Abdullah Shidiq atau biasa dipanggil dengan Kiai Sepuh untuk datang tepat waktu setelah tiga tahun berlalu. Kedatangan tersebut dengan tujuan untuk menjemput kekasih yang akan ia nikahi.

            Dari ketiga gadis yang teramat ia cintai, ia harus memilih salah satu diantaranya. Mereka adalah Zaenab, Priscillia, dan Khaura. Ketiga gadis ini adalah gadis yang baik, memiliki budi pekerti yang luhur dan akhlak yang mulia. Zaenab itu gadis yang baik, memiliki wawasan dan ilmu agama yang luas, akhlaknya baik, tutur katanya lembut dan sopan. Khaura adalah gadis yang lugu. Dia adalah gadis yang termuda diantara Zaenab dan Lia. Dia jujur, polos, memiliki keinginan kuat untuk mempraktikkan ajaran-ajaran Allah, memiliki prinsip dan pendirian yang kuat pula, dia tegas, dan pemberani. Sedangkan  Priscillia ia adalah gadis yang tegas, teguh akan keyakinan, berani dan muslimah yang soleh dan berakhlak mulia. Ia dengan ikhlas meninggalkan keluarganya untuk mempertebal keimanannya terhadap Islam dan ia pun menunggalkan agama Kristen yang ia dapat dari garis keturunan keluarganya. Sulit bagi Iqbal untuk memilih salah satunya. Namun, ia pun tidak sanggup untuk menikahi ketiganya.

            Dalam keadaan yang membingungkan ini, masalah bertambah katika Kang Rakhmat meninggal karena penyesalannya terhadap perbuatannya kepada Iqbal di masa lalu.

2

 Ia memberikan wasiat cinta dengan meminta Iqbal untuk menjaga Aisyah, kekasihnya. Iqbal pun bertambah kalut. Ia dihadapkan dengan empat gadis yang sangat ia sayangi. Iqbal tidak mencintai Aisyah layaknya seorang laki-laki kepada perempuan, melainkan ia menyayanginya sebagai saudara.

            Ketika pikirannya bimbang, ia meminta Irsyad untuk memberikan pendapat. Lalu dari Iryad ia mengetahui bahwa menjaga Aisyah tidak harus dengan menikahinya melainkan mencarikan jodoh yang baik yang dapat menjaga Aisyah dan keimanannya kepada Allah. Maka ia pun meminta Ihsan untuk mau menjadi pendamping Aisyah. Ihsan dan Aisyah pun akhirnya dijodohkan.

            Setelah persoalan Aisyah telah selesai, ia pun semakin terdesak. Dia harus segera memilih diantara Zaenab, Priscillia, dan Khaura. Belum selesai masalah itu, Iqbal  diharuskan mencari mahar yang akan ia berikan kepada calon istrinya dan ia pun harus meminta restu kepada keluarganya.

            Iqbal meminta pendapat kepada semua orang terdekatnya,Ayah, Ibu, orang tua angkatnya, Aisyah, Irsyad, Kiai Sepuh, dan teman-temannya. Akhirnya ia pun mendapat saran yang menjadi penerangnya siapa yang akan ia pilih nantinya. Atas saran Bu Jamilah, ibu yang banyak memberikan pelajaran kehidupan kepadanya seperti kemiskinan yang tidak membuatnya putus asa untuk jalani kehidupan karena keikhlasannya kepada Allah membuatnya mendapat tempat  yang istimewa di sisi Allah, insya Allah. Akhirnya Iqbal tahu sapa yang seharusnya ia jadikan istri. Dari ketigab gadis yang sangat istimewa tersebut, hanya Priscillia yang lebih membutuhkannya.

 

3

Karena ia tidak hanya membutuhkan suami tetapi ia juga membutuhkannya sebagai orang tua, saudara, sahabat, dan pembimbing imannya. Karena ia telah kehilangan kesemuanya itu karena keinginannya yang ingin meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan kecintaannya kepada Allah SWT.

            Setelah tahu sapa yang akan ia nikahi maka Iqbal meminta restu kepada keluarganya. Tadinya ia menganggap bahwa kedatangannya ke keluarga non muslim itu akan ditolak mentah-mentah. Tetapi ternyata tidak. Mereka menerima Iqbal dengan sangat baik. Setelah membicarakan keinginannya untuk menikahi Priscillia, ia sempat ditanya oleh ayah Priscillia yaitu bolehkah seorang Kristiani seperti dia memasuki tempat orang muslim,menghadiri pernikahan anaknya dan dapat menjadi mertua Iqbal. Setelah mendapat penjelasan dari Iqbal maka orang tua Priscillia menyetujui pernikahan anaknya dengannya. Khaura menyetujui perjodohannya dengan pemuda yang telah ditentukan oleh orang tuanya. Dan Zaenab pun tidak akan kesulitan mendapatkan pasangan hidup karena ia adalah gadis yang sangat mulia. Akhirnya Iqbal  pun dapat menikah dengan Priscillia, dan Zaenab serta Khaura menerima keputusannya dengan ikhlas.

 

  UNSUR INTRINSIK

1. Tema

Tema Novel Makrifat Cinta karya Tufiqurrahman al-Azizy adalah pencarian cinta religius yang bersumber pada cinta IlahTema tersebut diperjelas dengan kutipan,

            … Dengan sepenuh sungguh, aku bermohon petunjuk kepada Allah agar Dia          berkenana memberi jodoh yang tepat untukku. Dalam tidur yang kurang lebih setengah jam itu, aku belum mendapat firasat apa-apa. Tanda-tanda cinta tak                        kunjung datang jua. Hanya saja…, kudapati bahwa pikiran, perasaan, dan hatiku             lebih tenang daripada sebelumnya. Aku pasrahkan diri kepada kehendak Ilahi.       Kehendak-Nya adalah sebaik-baiknya kehendak bagi mahluknya.

                                                                                        (Makrifat Cinta,2007: 345-346)

 

2. Setting       

Setting Novel Berjudul Makrifat Cinta Karya Tufiqurrahman al-Azizy

 

1. Setting Tempat

            Setting tempat dalam novel ini adalah pesantren Tegal Jadin yang terdapat di wilayah Solo di daerah Tegal Jadin.

            Setting tersebut dapat dilihat dalam kutipan,

                        Sebentar lagi langkah-langkah kami akan segera sampai di    petanahan        Tegal Jadin. Di sisi lain dari apa yang kugelisahkan sekarang ini,        aku sangat       senang dengan perjalanan yang aneh ini. Kurang lebih sejauh lima      kilometer         kami menempuh perjalanan dengan jalan kaki. Bagiku, berjalan kaki                        sejauh ini telah biasa. Telah beberapa kali aku datang ke dan pergi dari Tegal          Jadin.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 57)

 

            …

            “Kalau begitu, bisakah kamu pulang sekarang?”

            “Sekarang?”

            “Ke Tegal Jadin.”

            “Ke pesantren Kak Iqbal?”

            “Ibu dan adikmu ada disini.”

            “Ada di situ? Teka-teki apa ini yang tengah kudengar?”

            “Ada deh. Ini teka-teki cinta…”

(Makrifat Cinta,2007: 79)

 

            Selain setting tempat di atas terdapat juga setting tempat lain yaitu, kota Banjarnegara dan Salatiga. Selama tiga tahun aku menapaki hidup di atas tanah-tanah Kota Banjarnegara, menghirup cinta dari kegelisahan hati. Aku telah menjadi musafir,     mengeja kehidupan, dan mereguk anggur pengalaman…

                                                                           (Makrifat Cinta,2007: 10)

 

                        Pagi telah merekah. Mentari bersinar demikian elok. Aku baru saja selesai   mandi.             Lalu berganti pakaian. Dan bersiap-siap hendak berangkat ke salatiga.     Aku ingin menemui Bu Jamilah, sebab dialah ibu satu-satunya yang belum         kumintai saran dan pandapatnya.

                                                                                      (Makrifat Cinta,2007: 342)

 

2. Setting Waktu

            Setting waktu dalam Novel ini berada pada waktu pagi, siang, sore dan malam hari.

 

            Hal ini diperjelas dengan kutipan-kutipan sebagai berikut,

            Jam 07.00 WIB.

            Kiai Sepuh memanggilku.

            Aku penuhi panggilan beliau.

            “Sudah kau dapat maharmu, Bal…?”Tanya beliau.

            “Sudah, Kiai….”

                                                                (Makrifat Cinta,2007: 366)

                        Pukul 12.45 WIB.

            Kami usai menjalankan shalat jumat. Para sahabatku yang dari Banjarnegara           menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan sahabat-sahabat lamaku.

            Mereka aktif berdiskusi, Tanya jawab, soal-soal agama.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 112)

 

            Pukul 15.30 WIB.

            Jenazah Kang Rahmat dikubur.

                                                (Makrifat Cinta,2007: 127)

 

            Pukul 23.00 WIB.

            Aku menuju ke tempat wudlu. Aku ingin menjalankan ibadah malam, memohon    petunjuk dan pertolongan Allah SWT.

                                                                                    (Makrifat Cinta,2007: 342)

 

 

3. Setting Peristiwa

            Setting peristiwa novel ini adalah,

  • Perjalanan Iqbal menuju ke Tegal Jadin untuk menemui dan memilih ketiga gadis yang dicintainya untuk menjadi istrinya.mereka adalah Zaenab, Priscillia, dan Khaura. Serta memenuhi janjinya kepada Kiai Sepuh.

            Diperjelas dengan kutipan,

                        Aku menghela nafas syukur. Kuhela pelan. Kutiupkan pelan. Kumelihat                 jam yang melingkar di lengan tangan kananku. Jarum jam menunjuk angka     setengah sepuluh. Mobil terus melaju. Kota Banjarnegara telah jauh di      belakang. Tegal jadin masih jauh. Masih berjam-jam lagi harus ditempuh.

                                                                                                (Makrifat Cinta, 2007: 13)

  • Kebingungan Iqbal untuk memilih siapa yang menjadi kekasih hatinya, siapa yang akan ia cintai dan nikahi antara Zaenab, Priscillia, dan Khaura.

            Hal ini diperjelas dengan kutipan,

            Tetapi, siapakah kekasihku? Siapakah cintaku? Apakah dia yang aku cinta selama ini telah merangkai bunga-bunga rindu dihatinya, yang kelopaknya menebarkan            keharuman aroma cintaku? Siapakah dia adanya? Betulkah Zaenab? Atau dia    adalah Priscillia? Kemana Khaura? Apakah aku bisa mencintai ketiga gadis itu             secara sekaligus tanpa mengurangi atau melebihkan rasa cintaku antara satu                        dengan yang lain?! Jika memang aku mencintai mereka, benarkah mereka akan mencintaiku pula?

 

 

            Lalu, atas dasar apa aku mencintai mereka dan mereka menanamkan benih cintanya kepadaku?

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 56)

  • Wasiat cinta dan kematian Kang Rakhmat.

            Dapat dilihat dalam kutipan,

                        “…. Aku titip Aisyah kepadamu. Jagalah dia dengan sepenuh hatimu.         Tunjukkanlah dia bagaimana lezatnya cinta kepada Allah kita, Akh. Maukah   engkau melakukan permohonanku ini?”

                        “Insya Allah, Kang. Insya Allah….”

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 123)

                        Jerit tangis Aisyah menyadarkankanku dari dekapanku kepada kang           Rakhmat. Pelan-pelan, kubuka kedua mataku. Pelan-pelan, baru kusadari dan          kurasakan batapa dinginnya tubuh Kang Rahmat.

                        Kang rakhmat meninggal di pelukanku….

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 126)

  • Iqbal Memilih Priscillia sebagai Istrinya. Walaupun Priscilllia berasal dari keluarga non muslim.

            Dapat dilihat dari kutipan,

                        “Apakah boleh dalam agama Anda, seorang suami yang memiliki mertua    beda agama?”

                        “Apakah itu menjadi persoalan buat bapak sekeluarga.”

                        “Tidak.”

                        “Saya juga tidak ada persoalan, jika memang bapak dan keluarga     menerima saya sebagai menantu dengan segenap perbedaan keyakinan saya dan         Lia terhadap Bapak, Ibu dan Adik….”

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 372)

  • Iqbal menikah dengan Priscillia.

            Setting peristiwa ini diperjelas dengan kutipan,

                        Kemudian aku, melangkah pelan menuju meja akad. Bersamaan      denganku, Priscillia pun maju. Batas agama Islam akhirnya tidak bisa dilanggar                   dalam prosesi pernikahan ini. Lia tidak menjadikan ayahnya sebagai wali nikah. Kutoleh kedua orang tuanya. Air mata mengucur deras di pipi ibunya. Lia maju             dengan bersendiri.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 382)

 

 

3. Alur atau Plot

Alur novel ini adalah alur sorot balik

            Diperjelas dengan kutipan,

                        “Masih ingatkah engkau bagaimana Kang Rakhmat memimpin para             sahabat mengarak-arakmu, mencaci-makimu, dan… memukulimu, beberapa       tahun yang silam? Masih ingatkah engkau akan syahadah cintamu yang telah      mengakibatkan penderitaan yang terjadi pada dirimu?”

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 87)

            Novel ini memiliki alur sorot balik karena novel ini menceritakan tentang                bagaimana Iqbal memilih dan mendapatkan gadis yang tepat untuk ia jadikan istrinya. Selama penulis mengungkapkan cerita ini, alur yang digambarkan dalam     setiap peristiwa-peristiwa yang menjalin ceritanya terus berkembang. Dalam             berkembangnya cerita penulis pun mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang           terjadi sebelumnya.

           

            Pernyataan ini pun diperkuat dengan kutipan,

            Aku juga berdiri, tetapi hampir saja aku ambruk.

            Baju yang dikenakan Priscillia itu, adalah baju yang dia kenakan ketika dia             kudapati pingsan didekapanku, tiga tahun yang lalu. Juga kerudung itu. Air    mataku menetes, dan segera kuusap sebelum para sahabat memergokiku.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 381)

           

 

Tahapan alur novel ini menurut Burhan Nurgiyanto dapat dirinci sebagai berikut,

  • Tahap situation (tahap penyituasian)

            Tahap ini adalah tahap yang paling utama yang berisi pelukisan dan pengenalan      situasi latar dan tokoh-tokoh cerita.

            Dalam novel ini tahap penyituasian bertumpu pada  tokoh yang nantinya akan        menjadi penentu jalan cerita serta situasi atau kejadian apa yang akan dialami         tokoh utama selanjutnya.

            Pernyataan ini diperjelas dengan kutipan,

                        Hari-hariku kembali cerah, tetapi hari ini adalah hari yang paling cerah.       Seperti sepasang bangau yang terbang mengepak sayap-sayapnya itu, melintas di       atas persawahan menuju satu titik impian. Dan aku pun akan segera menuju     impianku, mewujudkannya menjadi bagian dari hari-hariku di kemudian.    Terbayang di pelupuk mataku, wajah ayu Zaenab, Khaura dan Priscillia. Oh,        seandainya saja cintaku diterima mereka semua, betapa indah dunia.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 9)

 

  • Tahap generating circumstances (tahap pemunculan konflik)

            Tahap ini adalah tahap pemunculan konflik.

            Pemunculan konflik novel ini terlihat pada saat Kang Rakhmat meninggal akibat    rasa penyesalannya kepada Iqbal. Lalu sebelum meninggal Kang Rakhmat          memberikan wasiat cinta dengan menjaga Aisyah.

            Diperjelas dengan kutipan,

                        “…. Aku titip Aisyah kepadamu. Jagalah dia dengan sepenuh hatimu.         Tunjukkanlah dia bagaimana lezatnya cinta kepada Allah kita, Akh. Maukah   engkau melakukan permohonanku ini?”

                        “Insya Allah, Kang. Insya Allah….”

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 123)

 

  • Tahap rising action (tahap peningkatan konflik)

            Tahap ini adalah tahap meningkatnya konflik. Konflik semakin berkembang,          mencengkam dan menegangkan.

            Dalam novel ini konflik bekembang saat Iqbal mengalami kebingungan untuk         memilih siapa dari ketiga gadis yang dicintainya untuk ia pilih menjadi istrinya            tetapi juga ia harus mewujudkan wasiat cinta yang diberikan Kang Rakhmat                    kepadanya.  Apakah Iqbal harus menikahi Aisyah yang telah dianggapnya sebagai            saudara atau tiga gadis yang dicintainya, yaitu Zaenab, Khaura dan Priscillia.         Atau ia harus menikahi keempatnya.

            Diperjelas dengan kutipan,

                        “Lalu bagaimana dengan cintaku kepada Zaenab? Kepada Priscillia?           Kepada Khaura? Ya Allah…, kenapa urusanku menjadi demikian rumit ini?”

            Aku putus asa. Tepatnya, hampir berputus asa. Tak kubayangkan sebelumnya         bahwa aku akan menemui kerumitan cinta seperti ini. T’lah kubayangkan bahwa           aku bersanding secepatnya dengan dia yang memang kucintai dari dasar lubuk         hatiku. Dan tak kubayangkan bahwa aku akan menikahi seorang gadis yang dia             adalah putrid kiai tetapi atas dasar wasiat cinta.

                                                                                    (Makrifat Cinta,2007: 202-203)

  • Tahap klimaks (tahap klimaks)

      Tahap ini adalah tahap terjadinya konflik dengan pertentangan-pertentangan yang             terjadi, yang dilakui dan atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik      intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh utama yang        berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama.

      Dalam novel ini dapat dilihat bahwa konflik terjadi ketika Iqbal, tokoh utama        telah didesak oleh Kiai Sepuh untuk memilih siapa yang akan dijadikannya        sebagai seorang istri. Ia pun semakin bingung dan sulit untuk memilih ketiga        gadis yang dicintainya yang merupakan gadis-gadis yang mulia.

      Dengan kutipan,

                  Bila Kiai Sepuh mengatakan bahwa aku memendam keraguan, maka           inilah yang memang tengah kurasakan sekarang.

      O, betapa memalukannya aku ini        setelah sekian lama merasa seakan-akan bisa dengan mudah mendapatkan pasangan hidup. Tetapi hari ini mataku baru terbuka         bahwa tidak mudah    mendapatkan pasangan hidup itu. Sebelumnya, aku       membayangkan bahwa aku ke sini hanya untuk menjemput Zaenab,       Priscillia, dan Khaura, lalu mereka kunikahi. Dan… aku melamar mereka.   Dan     aku hidup berumah tangga dengan mereka.

                                                                                          (Makrifat Cinta,2007: 248)

  • Tahap denouement (tahap penyelesaian)

            Tahap ini adalah tahap dimana konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian dan ketegangan dikendorkan.

            Setelah terjadi klimaks yang dialami oleh Iqbal, maka ia pun mendapat       pemecahan masalah dari bu Jamilah. Bu Jamilah memberikan saran kepadanya                untuk memilih Priscillia. Karena Priscillia lebih membutuhkannya selain sebagai         suami ia butuh seseorang sebagai ayah, sahabat, saudara serta guru yang akan bisa      membimbingnya menuju keimanan dan keyakinannya kepada Allah SWT. Dan                  akhirnya Iqbal pun menikah dengan Priscillia. Kisah ini berakhir Happy Ending.

            Dijelaskan dalam kutipan,

                        …. Tetapi Lia adalah Lia, dan Lia adalah seorang gadis. Dia tidak hanya    membutuhkanmu sebagai seorang muslim yang dapat dijadikan sahabat dalam                         keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT. Dia membutuhkanmu sebagai        pembimbing, cahaya yang akan menerangi hidupnya, kekuatan yang akan             menguatkan jiwanya yang rapuh.

            Oh, andaikan Ibu adalah seorang pemuda lajang, Ibu akan menengadahkan kedua             tangan Ibu supaya Ibu bisa menikahi Lia. Menikah tidak hanya membentuk      mahligai rumah tangga, Nak. Menikah berarti juga menjalankan dakwah,             menyeru kepada kebaikan dan kebenaran. Dalam hal yang demikian, Lia    lebih             membutuhkanmu ketimbang Zaenab dan Khaura.

                                                                                    (Makrifat Cinta,2007: 350-351)         

 

4. Penokohan dan Perwatakan

A. Tokoh Utama

Tokoh utama novel ini adalah

  • Iqbal Maulana,
  • Zaenab,
  • Priscillia, dan
  • Khaura.

            Terdapat dalam kutipan,

                        Oleh karena itu, duh Iqbal….

                        Bila engkau tertarik pada seorang gadis, entah kepada Zaenab, Priscillia,     atau Khaura maka itu adalah hal yang wajar. Engkau terbayang wajah mereka.      Engkau merindui mereka….

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 295)

b. Tokoh Pembantu 

- Irsyad                              -Firman                           - Fatimah

- Aisyah                             - Indri                             - Dawam

- Kiai Sepuh                      - Okta                             - Amin

- Kiai Subadar                   - Parno                            - Bapak Ignatius Dibyo Pratisto

- Ayah Iqbal                      - Patmo                           - Ibu Maria

- Ibu Iqbal                         - Surya                            - Adik Priscillia

- Pak Burhan                     - Kang Rakhmat

- Bu Laela                         - Kang Rusli

- Bu Jamilah                      - Ihsan

 

B. Perwatakan

1. Tokoh Utama

  • Iqbal Maulana

      Wataknya : Soleh, sopan, suka menolong, rendah hati, dan selalu dilanda    kebingungan menentukan siapa cintanya.

      Kutipan,

      Aduhai, Priscillia….

      Aku sungguh malu kepada Allah dan kepada dirimu. Aku malu kepadamu sebab   aku masih dipusingkan oleh urusan cinta birahi ini, sedangkan engkau tengah     memasuki lautan cinta Ilahi.

                                                                                          (Makrifat Cinta,2007: 354)

 

  • Zaenab

            Wataknya : Nak Zaenab itu gadis yang baik, memiliki wawasan dan ilmu agama    yang luas, akhlaknya baik, tutur katanya lembut dan sopan.

            Dengan kutipan,

                        “Marilah saya ajak Nak Iqbal untuk merenungkan: Nak Zaenab itu gadis     yang baik. Lia dan Khaura juga demikian. Ibu sudah senpat bercakap-cakap       banyak kepada masing-masing mereka, bertanya tentang keluarga dan sebagainya.        Zaenab itu berasal dari keluarga yang baik. Ayahnya memiliki garis nasab dengan             ulama yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Dia masih keturunan ulama besar.   Dia berasal dari Jawa Timur. Dari sejak kecil, dia hidup dari satu pesantren ke       pesantren yang lain. Pesantren Tegal Jadin adalah tempat persinggahan   terakhirnya. Nak Iqbal bisa bayangkan, gadis seperti itu tentu memiliki wawasan    dan ilmu agama yang luas. Akhlaknya baik. Tutur katanya lembut dan sopan.           Senyumnya memikat. Wajahnya yang cantik. Pendeknya, dia adalah gadis yang      sempurna. Kecantikannya luar-dalam.”

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 348)

  • Khaura

      Wataknya : Khaura adalah gadis yang lugu. Dia adalah gadis yang termuda            diantara Zaenab dan Lia. Dia jujur, polos, memiliki keinginan kuat untuk   mempraktikkan ajaran-ajaran Allah, memiliki             prinsip dan pendirian yang      kuat pula, dia tegas, dan pemberani.

      Kutipannya,

                        Lalu tentang Khaura, Bu Jamilah berkata:

            “Khaura adalah gadis yang lugu. Dia adalah gadis yang termuda diantara Zaenab dan Lia. Dia jujur. Polos. Memiliki keinginan kuat untuk mempraktikkan ajaran-          ajaran Allah. Memiliki prinsit dan pendirian yang kuat pula. Dia tegas. Dia     pemberani. Salah satu buktinya adalah dia menolak untuk dijodohkan oleh orang   tuanya.”

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 348)

 

  • Priscillia

      Wataknya :  tegas, teguh akan keyakinan, berani memutuskan untuk menjadi          mualaf, muslimah yang soleh dan berakhlak mulia.

      Dengan kutipan,

                        Demi kerudungmu, engkau jaga keyakinanmu. Demi jilbabmu, engkau        kesampingkan hasrat rindu dan cintamu kepada orang tua dan saudaramu. Demi            keyakinanmu, engkau tinggalkan sahabat-sahabat dan kuliahmu. Demi Islam,            engkau barada disini.

            Oh, Lia…

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007:309)

 

2. Tokoh Tambahan

  • Irsyad

            Wataknya : Bijaksana, soleh, memiliki hati yang mulia, sopan, cerdas dan arif.

            Kutipannya,

            …. Setelah beberapa hari aku dilanda gelisah dan kebingungan tantang wasiat        cinta, kini, berkat tutur kearifan Irsyad, aku Insya Allah akan tetap bisa        melaksanakan wasiat Kang Rakhmat, tetapi sekaligus tidak memaksa diriku untuk             mengubah rasa cintaku kepada Aisyah….

                                                                                                (Makrifat Cinta, 2007: 221)

  • Aisyah

            Wataknya : Gadis yang soleh dan memegang teguh cintanya.

            Kutipannya,

            Karena apalagi? Karena cinta? Lupakanlah kita bahwa kita saling mencinta? Aku   adikmu dan engkau kakakku? Cintaku sebagai seorang gadis adalah untuk Kang            Rakhmat….

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 202)

  • Bu Jamilah dan bu Laela

            Wataknya : Kedua ibu ini memiliki sifat keibu-ibuan yang tinggi, bijaksana,            penyayang. Yang membedakan keduanya adalah kebesaran hati Bu Jamilah yang        telah menjalani tempahan hidup membuatnya lebih memiliki kebesaran hati.

            Kutipan,

                        Bu Jamilah dan Bu Laela saling berpelukan, saling mencium pipi kiri-          kanan. Allahu akbar. Kurasakan energi agung memenuhi ruangan yang sempit ini,            tatkala dua sosok ibu yang memiliki derajat tinggi sebagai muslimah bertemu        dalam rangkulan dan ciuman sepenuh kasih. Hilanglah sudah batasan bahwa Bu       Laela barasal dari keluarga yang kaya, sedangkan Bu Jamilah berasal dari   keluarga yang miskin.

                                                                                                (Makrifat Cinta, 2007: 48)

  • Pak Burhan

            Wataknya : bijaksana, baik hati dan penyayang.

            Kutipan,

            Pak Burhan tertawa,”Sedikit membantu pemerintah Wonosobo kan nggak apa-      apa?

            “Bapak memang orang yang baik. Tak peduli apakah Pemerintah Wonosobo akan membantu Bapak atau tidak….”

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 15)

 

  • Ayah dan Ibu Iqbal

            Wataknya : Menyayangi Iqbal dan memiliki sikap bijaksana.

            Kutipan,

            Kucium kening Ibu.

            Ayah mencium keningku.

            Menatapku, Ibu berlinangan air mata. Api rindu berkobar-kobar di dadaku kepada             ibu, kini telah padam sudah. Aku bahagia melihat ibuku kembali. Juga melihat      ayahku.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007:114)

 

  • Kiai Subadar

            Wataknya : seorang guru dan ayah yang bijaksana

            Kutipannya,

            Dalam hal menikah, walau kiai sudadar adalah seorang kiai. Beliau menyerahkan   masalah ini sepenuhnya kepada putrinya.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 253)

 

  • Kiai Sepuh

      Wataknya : guru yang baik dan bijaksana

      Kutipannya,

                  Anakku…

      Seseorang tidak akan mampu menggapai dan mencapai kecintaan Allah terkecuali ia mampu untuk melatih dirinya sendiri dengan mengekang hawa nafsunya.         Seseorang telah berkata,”mengekang hawa nafsu adalah memuliakannya.    Melampiaskannya menurut kemauannya adalah kehinaan abadi.

                                                                              (Makrifat Cinta,2007: 293)

  • Firman, Indri, Okta, Parno, Patmo, Surya

            Wataknya : Mereka adalah sahabat-sahabat Iqbal yang tergabung dalam Ashabul   Kahfi. Mereka memiliki keinginan yang tinggi untuk memperbaiki kesalahan dan      dosa-dosa yang pernah mereka lakukan dengan meningkatkan keimanan kepada         Allah SWT.

            Kutipan,

            … Cukuplah aku bahagia melihat sahabat-sahabatku mendapatkan cahaya-Nya      kembali setelah sekian lama lilin suci hati tidak menyala…

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 13)

 

  • Dawam, Kang Rusli, Amin, dan Ikhsan

            Wataknya : Mereka adalah sahabat-sahabat iqbal yang soleh dan merupakan santri             di pesantren Tegal Jadin. Mereka memiliki keinginan yang tinggi untuk belajar.

 

            Kutipan,

            Inilah saat bagiku untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang ada di             pesantren ini. Inilah saatnya aku bersua dengan Kang Rakhmat, Dawam, Kang   Rusli, dan Amin….

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 63)

…. Mereka mengangkat bahu. Mereka menyerahkan jawaban sepenuhnya   kepada Allah. Dan mereka tetap pada pendirian mereka.

            Mereka tidak mau menziarahi makam Kang Rakhmat. Mereka melakukan ini          dengan alasan ingin menghindari bid’ah dalam agama….

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 141)

  • Fatimah

            Wataknya : Gadis kecil yang lucu, sopan dan soleha.

                        Segara kukenalkan Fatimah kepada Bu Laela dan Pak Burhan. Fatimah      menyalami mereka, bergantian. Tak lupa, dia mencium tangan Pak Burhan dan   Bu Laela. Dan baru kusadari bahwa Bu Laela pun menitikkan air mata.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 42)

  • Kang Rakhmat

 

            Wataknya : Baik hati , beriman dan mudah menyesali perbuatannya.

                  Ketika dia telah bisa menguasai dirinya kembali, dia lalu      berkata,”Kematian memang menyedihkan. Tetapi, kematian Kang Rakhmat itu          adalah kenyataan yang mengembirakan. Dunia harus berduka dengan    kematiannya, sebab orang baik seperti dia sesungguhnya lebih berhak menghuni     muka bumi ini daripada para bajingan tengik, tukang pembuat kerusakan,    koruptor, pembunuh, pemerkosa, dan setan-setan lainnya yang berwajahkan             manusia! Bagi penduduk bumi, kematian orang seperti Kang Rakhmat memang       merupakan suatu kehilangan yang menyakitkan. Tetapi, bagi Kang Rakhmat           sendiri, kematiannya adalah pintu kebahagiaan yang kekal di sisi Allah.

                                                                                          (Makrifat Cinta,2007: 156)

 

 

 

5. Sudut Pandang

            Sudut pandang yang dipakai dalam novel ini yaitu sudut pandang persona pertama

Yaitu “Aku”.

            Diperjelas dalam kutipan,

                        Aku masih diam, sebab aku masih takut. Dan karena aku dihantui oleh        ketakutan-ketakutan yang seperti itu, hampir saja aku lupa dengan apa yang      dikatakan Irsyat dan beberapa sahabat. Juga hampir lupa dengan perkataan Ayah,          bahwa cinta membutuhkan pengakuan. Alam meletakkan kecenderungan kepada   laki-laki untuk melahirkan perasaan cintanya kepada perempuan. Aku hampir           lupa bahwa aku balum menyatakan perasaan cintaku kepada mereka.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 301)

pengertian sudut pandang persona pertama adalah seseorang ikut terlibat dalam     cerita, ia adalah si “Aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, self-consciousness, mengisahkan peristiwa dan tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami, dan dirasakan. Serta sikapnya terhadap orang lain        (tokoh) kepada pembaca (Nurgiyanto, 2007:262)

seperti halnya pengertian di atas, novel ini melukiskan tokoh yang bernama Iqbal   Maulana dengan gaya “Aku”. Di sini tokoh ini dapat merasakan semua hal yang dialaminya dan mengisahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi serta tokoh-tokoh yang berinteraksi dengannya.

            Dilihat dalam kutipan,

                        Akankah kunikahi Aisyah tanpa ada rasa cinta di hatiku, demi dan hanya   demi memenuhi wasiat Kang Rakhmat? Benar-benar berdosakah aku apabila           tidak kupenuhi wasiat tersebut?

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 209

6. Gaya             

            Gaya bahasa yang terdapat dalam novel ini adalah sebagai berikut:

  • Personifikasi

            Personifikasi adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati menjadi          benda hidup, khususnya diumpamakan seperti manusia.

            Gaya bahasa personifikasi yang terdapat dalam novel  ini dapat dilihat dalam         kutipan,

            Kepulan asap bergulung-gulung di atas wuwungan, bau bata yang terbakar, dan     sebuah gubuk tua berdiri sunyi di antara hija-ranau padi. (Makrifat Cinta,2007: 9)

 

            Ada kegetiran ketika nisbat Tuhan dikulum dalam lidah yang penuh dosa; ada        kengerian tatkala separuh jiwa terbang bersama nafsu. (Makrifat Cinta,2007: 10)

  • Metafora

      Metafora adalah gaya bahasa yang mengutamakan perbandingan benda satu           dengan benda lain yang memiliki sifat sama atau hampir sama.

      Dalam novel ini dapat dilihat dalam kutipan,

      Kumasukkan air suci yang mensucikan ini pada hidungku, hidung yang suka          mencium aroma wewangian syahwat dunia, lalu jauh dari aroma surga. Hidung             yang menafaskan ciuman mesra, tetapi tersirnakan dari kemesraan ciuman hakiki           di singgasana-Nya. (Makrifat Cinta,2007:211)

  • Alegori

            Gaya bahasa ini memberikan perbandingan terhadap sesuatu kejadian dalam           bentuk beberapa perbandingan tetapi tergabung dalam suatu kesatuan yang utuh.

            Denting-denting waktu bagai dawai gitar yang dipetik dalam irama konstan dan    terus berpacu. (Makrifat Cinta,2007:197)

            Dalam novel ini dapat dilihat dalam kutipan

            Khilaf itu ibarat debu yang menempel di kesucian cermin jiwamu. Itu hanya          debu. Setitik debu. (Makrifat Cinta,2007: 100)

  • Hiperbola

            Gaya bahasa ini adalah gaya bahasa yang menggantikan kata sederhana menjadi    luar biasa.

            Dalam novel ini terdapat pada kutipan,

            Sekarang rasa itu semakin menguat-menumpuk menggumpal di dasar lubuk           hatiku. (Makrifat Cinta,2007: 221)

            Tulisan itu seolah-olah menatapku tajam, menusuk mataku, membelit akalku,          menukik dan menghunjam di hatiku. (Makrifat Cinta,2007: 209)

  • Litotes

      Gaya bahasa ini mempergunakan kata yang berlawanan artinya dengan maksud      untuk merendahkan diri.

 

      Oh, Priscillia, aku jika dibandingkan dirimu tidak sebanding. Aku bukan apa-apa    bagi keluhuran dan kesucian jiwaku. Engkau telah menjadikan cinta kepada Allah   di atas segalanya. (Makrifat Cinta,2007: 354)

 

  • Repetisi

            Gaya bahasa ini merupakan pengulangan kata beberapa kali dalam kalimat.

            Dalam novel ini dapat dilihat dalam kutipan

            Tetapi akalku mengalami kegelapan. Hatiku terseret kegelapan. Bahkan, tiba-tiba   dunia menjadi gelap di mataku. Batinku menjerit keras. Keras sekali. Hatiku            berteriak kencang. Kencang sekali. (Makrifat Cinta,2007: 302)

            Zaenab tersenyum padaku

            Priscillia tersenyum padaku    

            Khaura tersenyum padaku

                        (Makrifat Cinta,2007:304)

 

  • Paralelisme

      Gaya bahasa ini sama seperti gaya bahasa repitisi tetapi hanya terdapat dalam         puisi.

      Kutipan dalam novel ini adalah,

      Biarkan hatiku mabuk cinta.

      Jangan kau cela ia jika tampak lalai

      Biarkan hatiku

      Andai kau tahu bagaimana cinta itu menggodaku

      Kekasihku adalah Tuhan Yang Maha Akhir dan Maha Awal

      Biarkan hatiku

      Inilah cintaku,

      Kupersembahkan kepada Dzat yang selalu memberi dan tak pernah meminta.

      ….

                                                                        (Makrifat Cinta, 2007: 374-375)                    

  • Asosiasi

            Gaya bahasa ini memperbandingkan satu benda terhadap benda lain sehingga         membawa asosiasi kepada benda yang diperbandingkan.

            Dalam kutipan,

            Astaga, cintaku…

            Sembunyikanlah gairahmu;

            Penyakitmu adalah juga obatmu sebab

            Cinta bagi jiwa adalah ibarat anggur dalam gelas

            yang engkau lihat adalah

            cairannya, yang tersembunyi adalah rohnya.

                                    (Makrifat Cinta, 2007: 269)

7. Amanat

            Amanat novel ini adalah sebagai manusia kita harus,

  • Selalu berupaya untuk memperbaiki kualitas hidup; yang kaya menggunakan sayap syukur untuk mencapai ridha Allah, sedang yang miskin terbang bersama sayap syukur mencapai cinta-Nya.

      Dijelaskan dalam kutipan,

                        ….

                        Berkat mereka aku menyadari betapa uang dan materi hanyalah sesuatu      yang sirna. Tak pernah mengabadi. Akan musnah. Akan lenyap. Uang dan materi    hanyalah alat untuk hidup, bukan tujuan hidup. Hidup terlalu naïf bila            digantungkan pada uang dan materi. Ada dan tidak adanya uang dan materi sama             saja. Kalau ada alhamdulillah, tidak ada alhamdulillah. Inilah hakikat ikhlas dan             betapa besarnya pahala ikhlas itu disisi Allah SWT.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 36)

 

  • Untuk menjadi baik, tidak ada jalan kecuali merevolusi diri dan memegang teguh kebaikan.

            Dilihat dalam kutipan,

                        “Tidak Kang. Engkau tidak menyekutukan Allah. Engkau pun tidak           membunuhku. Itu hanya kekhilafan yang amat kecil bagi pengetahuan dan     keilmuanmu.

            Itu hanyalah kesalahan kecil bagi kemuliaan dan keluhuran akhlakmu.Derita          yang telah engkau sandang sepanjang tiga tahun ini, sebagai bentuk      sesalmu, menunjukkan betapa tingginya kedudukanmu di hadapan           manusia.

                                                                                                (Makrifat Cinta, 2007: 99)

  • Untuk menjadi benar, tidak ada jalan lain kecuali berupaya meningkatkan derajat pemahaman akan nilai-nilai kebenaran.

            Dijelaskan dalam kutipan,

                        Terhadap Rusli, Parno berkata,”Mas, mohon maaf , saya ini orang yang       tidak beragama. Saya baru berusaha belajar beragama. Otak saya akhir-akhir ini             selalu gelisah akan kebenaran agama yang aku anut selama ini. Jadi, jika ada         perkataan aku yang salah, tolong diingetin dan tolong diluruskan. Boleh nggak      aku bertanya?”

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 137)

  • Kenikmatan dan kelezatan hidup di dunia ini hanya akan terjadi tatkala cinta telah disandarkan secara total kepada Allah.

            Kutipannya,

                        Bila cinta sejati yang selalu ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya semata             telah bersemayam di hati seorang hamba, maka kecintaan tersebut akan dapat              menyempurnakan perbuatannya yang penuh dengan kekurangan, serta       mengantarkannya kepada drajat yang tinggi di sisi Allah.

                                                                                                (Makrifat Cinta,2007: 353)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar: