Cerpen lama yang menyentuh hati,
SILUET SENJA
Oleh: Fanny Yusuf Irawan
Kubaca sekali lagi deretan nama-nama
yang terpajang di kertas pengumuman itu. Sama saja. Tetapi tidak ada namaku
tertulis di sana. Tidak ada satupun susunan huruf yang menyatakan bahwa Ali
Husna, siswa kelas IIB lolos seleksi. Bahkan, di daftar pemain cadangan
sekalipun.
Wajahku
menegang. Dadaku menggelegak, geram. Tanganku mengepal dan serta merta kupukul
papan pengumuman itu hingga bergerak. Ku tak peduli dengan beberapa pasang mata
di tempat itu yang menatapku heran. Segera aku berlalu dari aula student center
dengan telapak tangan mulai terasa berdenyut, nyeri. Tapi perasaan sakit justru
lebih terasa di sini, di hati. Aku terbuang dan aku marah. Namun, aku tidak
tahu harus kulampiaskan pada siapa, yang juga pantas aku persalahkan dalam hal
ini.
Hilang
sudah. Tidak ada lagi harapan. Apa yang kuperjuangkan semua ini percuma saja.
Semua cuma sampah. Makiku dalam hati. Nafasku tersengal tak beraturan menahan
hempasan emosi, seiring debam jalanku menyusuri koridor sekolah.
Selepas
tikungan, kuperlambat langkahku kemudian kududuk menyandar di deretan bangku
panjang depan ruang perpustakaan. Lorong-lorong sekolah sudah mulai sepi dari
suara-suara penghuninya. Hingga dentang jam sebanyak empat kali yang terdengar
lama di ujung gang ruang kelas memecah kesenyapan dalam lamunanku. Tidak ada
siapapun di sini, selain beberapa anak yang berdiri bergerombol di samping
ruang OSIS, sebelah barat pintu laboratorium biologi yang berbatasan dengan
perpustakaan ini. Aktivis-aktivis SMU 1.
Sementara
jauh di depan sana. Di seberang lapangan upacara. Di halaman sport hall
sekolah, masih dapat kulihat sosok pak Dirman, guru olah raga sekaligus pelatih
ekskul bola basket kami. Dia berjalan mondar-mandir dan nampak berteriak-teriak
memberikan instruksi pada tim basket sekolah. Latihan perdana menghadapi
kompetisi bola baket antar SMU sekodya dimulai hari ini. Dan, namaku tidak
tercantum.
Kulemparkan
saja tas sekolahku hingga buku-buku di dalamnya berhamburan di lantai
sesampaiku di kamar. Aku duduk di tepi kasur tanpa ranjang yang berseprei penuh
dengan ornamen bunga matahari berwarna kuning.
Pandanganku
nanar menatapi benda-benda yang menjadi bagian dari kamar ini. Di atas pintu,
menempel ring basket kecil dengan papan pantul berwarna biru. Sementara di
sudut kamar tergantung kaos tim Atlanta Hawk dengan nama Sharif Abdurrohim di
punggungnya. Pemain favoritku. Yang tiap kali kupandangi dialah selalu
mengingatkanku pada semangatnya. Semangat bertanding seperti dia di NBA di sisi
lain kamar ini. Di bawah kaligrafi bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim dengan khas bergaya Arab khufi, terpasang foto berbingkai kayu
itu terdapat gambarku mengenakan seragam basket diapit papa dan mama yang
memegang bola. Kenangan itu, selalu ada dibatinku. Di atas meja belajar nampak
pula beberapa majalah olahraga berjajar memenuhi rak buku. Sunyi.
Aku
mendesah. Rasa kesal itu belum hilang. Kurebahkan tubuhku dan kucoba memejamkan
mata. Namun, yang terlintas dalam benakku Cuma sebuah bayangan menakutkan.
Bayangan tentang diriku sendiri. Ini tidak adil. Benar-benar tidak adil.
Basket
adalah obsesiku. Aku ingin menjadi pemain profesional. Hingga tak pernah
kuluangkan waktu seharipun tanpa berlatih. Mama dan papa selalu memberiku
dorongan. Sesibuk apappun, mereka selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan aku
ditiap pertandinganku. Aku masih ingat, dulu papa pernah berucap:
“Raihlah, bila itu keinginanmu. Dengan
usahamu sendiri. Tapi ketahuilah, itu semua bukanlah perjuangan dalam semalam.”
Kucoba
buktikan perkataan beliau, sedari SMP, lapangan basket merupakan ruang kelasku
yang kedua. Di sana aku belajar. Belajar tantang banyak hal. Kuakui, sedikit
banyak kudapatkan sesuatu yang baru dari sana. Juga tentang keyakinan ini.
Keyakinan yang membuat aku begitu yakin akan mampu menjadi yang terbaik. Sampai
kenyataan ini membenturku. Kenyataan yang baru kusadari setelah hari, minggu,
bahkan dalam hitungan tahun terlewati, saat kucoba untuk mewujudkan bagian dari
impianku, ternyata cuma untuk turut serta dalam kompetisi bila basket antar SMU
pun aku tidak mampu. Pecundang.
Aku
mendengus keras. Pasti ada yang salah. Ya, pasti. Akulah kesalahan itu. Aku
yang tak bisa berlari cepat. Aku yang tak mampu melompat tinggi, juga gerakanku
yang tidak segesit mereka.
Aku
menerawang. Ini pasti karena aku terlalu gemuk. Postur tubuhku pun tidak ideal
bagi seorang pemain basket. Tapi, ini tidak fair.
Sangat tidak adil. Mengapa harus aku. Mengapa musti aku yang bertubuh gendut.
Bukan mereka. Entah darimana datangnya, tiba-tiba kurasakan kebencianku
membuncah. Kebencian irrasional. Aku mulai membenci tubuhku sendiri. “Tuhan
tidak adil” pekikku tertahan.
Bola
melambung dan membentur papan. Meleset. Sudah yang kesekian kalinya shootingku tidak akurat. Bola kini
berpindah tangan. Bang Andre mendrible. Ia menunjukkan kemampuannya sebagai
pemain inti tim basket fakultas di kampusnya. Tubuhnya melayang sesaat,
kemudian ia sudah bergelantungan di ring. Sempurna.
Kuambil
bola dan kembali kucoba untuk menembakkannya ke ring. Terlalu pelan. Hingga
hanya menyambar jaringnya saja.
“hei...ada
masalah?” Aku tersentak. Masalah, batinku. Masalahnya adalah aku. Aku yang
terlalu gemuk hingga gerakanku lamban. Coba, andai aku bisa lebih kurus, aku
pasti bisa segesit itu, lompatanku pasti juga akan lebih tinggi. Lagi-lagi
bayangan itu muncul kembali. Kebencian menyeruak menutupi benak hingga tersisa
Cuma rasa benci.
“Dari
tadi aku perhatikan permainanmu jelek. Kenapa, kamu sakit?”
Tangan
kekar itu menyentuh bahuku.
“Ah...tidak.
tidak, Bang Cuma...”
“Cuma
apa?”
Aku
mendesah. Kumainkan bola basket di tangan dan membiarkannya berputar-putar di
ujung jariku. Ku edarkan pandangan mengitari lapangan. Lapangan basket yang
hanya berjarak tiga blok dari rumahku. Sepi, sesepi hari yang lain.
Di
sini cuma ada aku dan bang Andre, dialah satu-satunya penghuni blok F di
perumahan ini yang kukenal. Aku yang kuper atau para penghuninya terlalu
individualis. Entah.
Sejenak
aku duduk terpekur di lantai lapangan. Kemudian meluncurlah dari mulutku
semuanya. Kuceritakan padanya tentang keinginan, perjuangan selama ini juga
tentang kegagalan itu. Kegagalan yang tidak semestinya ada. Karena kata gagal
tak pernah aku jumpai dalam kamus hidupku.
Bang
Andre menatapku. Lama sekali. Hingga membuatku jengah.
“Husna,
kita duduk disana.” Katanya sambil menunjukkan sepetak tanah kosong tidak jauh
dari lapangan. Sepetak tanah yang berbatasan langsung dengan areal persawahan
di tepi luar perumahan.
Aku
bangkit. Kuikuti saja langkah bang Andre yang meninggalkan jejak bayangan
panjang dari tubuhnya yang tertimpa cahaya matahari sore. Keheningan melingkupi
hingga kebisuan menebarkan pesonanya di antara pucuk-pucuk padi hijau yang
berayun tersapu angin di depan sana.
Kulirik
sosok yang duduk di sebelahku. Rambut sebahunya berderai diterpa angin. Masih
saja mata yang tajam itu terpaku menatap redup matahari di ujung langit. Petang
selalu mengagumkan. Batinku, bulatan besar berwarna merah di cakrawala
dibayangi langit jingga dengan siluet awan keperakan. Distorsi warna biru
kelabu berbaur jingga seperti menjadi harmoni. Pada lukisan langit senja.
“Husna,
kau lihat itu...?” katanya tanpa menoleh ke arahku.
“ya....,”
“Indahkah
itu semua...”
Kucoba
memahami pertanyaannya. Indah. Tentu saja. Sangat indah bagiku. Dan dia pun
tahu itu. Sering aku memergoki dia sedang menatap langit sore dari loteng
rumahnya. Kurasa, ia pun menikmati indahnya horizon saat sore.
“Seperti
apakah warnanya...?”
Pertanyaan
filosofis. Semua tahu warna langit senja. Harmoni dalam matahari merah di
antara siluet awan membentuk sketsa abstrak. Sketsa berwarna jingga.
“Maksudnya...?”
Aku berbalik bertanya.
Bang
Andre tertawa kecil. Ia rebahkan badannya dan menatap lepas ke atas. Ke langit
yang belum sepenuhnya gelap.
“Aku
tidak pernah bisa merasakan indahnya kesempurnaan warna-warna, pun dari langit
senja ini.” Ujarnya pelan seperti berbisik.
Aku
makin tidak paham. Bicara apa dia.
“Tapi
pernahkah kau melihat aku mengeluh...?” sesaat ia menoleh ke arahku.
“Pernahkah
menyaksikan aku menyalahkan atas apa yang menimpaku atau sampai berpikiran
sempit dengan menganggap Allah itu tidak adil?”
Aku
tertohok. Namun, apa sebenarnya maksud pembicaraan ini. Ia menarik nafas dalam.
“Aku
menderita buta warna.” Ucapnya datar.
Namun
membuatku terhenyak. Lidahku mendadak kelu hingga terasa sulit untuk kembali
bersuara. “Bu...buta warna...” desisku. Terbayang olehku menatap remang layar
dunia bertirai keterbatasan warna.
“Namun,
aku tidak marah atau merasa perlu meratapinya. Tidak, tidak akan. Aku tahu apa
yang harus kulakukan. Bersyukur, itu saja. Aku masih dikaruniakan banyak
keindahan. Termasuk hingga detik ini masih dapat kusaksikan anggunnya senja.
Dalam siluet.”
Badanku
tersentak. Kusarankan sesuatu menjalari tubuhku.
“Husna...”
ucapnya kemudian. Lirih. “Seperti apapun hidup, syukurilah. Pahami dalam setiap
rangkaiannya pasti ada makna. Sebab tak ada yang sia-sia di dalam hiduku,
hidupmu juga kehidupan ini.”
Perasaan
aneh seperti menderu di kedalaman relung jiwa. Rasa berdosa seolah telah
menamparku. Aku tertunduk lemah bak kehilangan tulang penyangga tubuh.
Tiba-tiba aku merasa sangat inmgin menangis. Sangat ingin menumpahkan airmata
penyesalan ini pada sebuah sujud panjang.
“Astagfirullah...” gumamku
terpatah-patah. Terlalu lirih mungkin desahku itu hingga seperti hilang
tertelan desir angin petang.
Annida, Nomor 26/XI/25 September 2002
Tidak ada komentar:
Posting Komentar