Minggu, 08 November 2020

Cerpen "Siluet Senja"

Cerpen lama yang menyentuh hati,

SILUET SENJA

Oleh: Fanny Yusuf Irawan

 

Kubaca sekali lagi deretan nama-nama yang terpajang di kertas pengumuman itu. Sama saja. Tetapi tidak ada namaku tertulis di sana. Tidak ada satupun susunan huruf yang menyatakan bahwa Ali Husna, siswa kelas IIB lolos seleksi. Bahkan, di daftar pemain cadangan sekalipun.

            Wajahku menegang. Dadaku menggelegak, geram. Tanganku mengepal dan serta merta kupukul papan pengumuman itu hingga bergerak. Ku tak peduli dengan beberapa pasang mata di tempat itu yang menatapku heran. Segera aku berlalu dari aula student center dengan telapak tangan mulai terasa berdenyut, nyeri. Tapi perasaan sakit justru lebih terasa di sini, di hati. Aku terbuang dan aku marah. Namun, aku tidak tahu harus kulampiaskan pada siapa, yang juga pantas aku persalahkan dalam hal ini.

            Hilang sudah. Tidak ada lagi harapan. Apa yang kuperjuangkan semua ini percuma saja. Semua cuma sampah. Makiku dalam hati. Nafasku tersengal tak beraturan menahan hempasan emosi, seiring debam jalanku menyusuri koridor sekolah.

            Selepas tikungan, kuperlambat langkahku kemudian kududuk menyandar di deretan bangku panjang depan ruang perpustakaan. Lorong-lorong sekolah sudah mulai sepi dari suara-suara penghuninya. Hingga dentang jam sebanyak empat kali yang terdengar lama di ujung gang ruang kelas memecah kesenyapan dalam lamunanku. Tidak ada siapapun di sini, selain beberapa anak yang berdiri bergerombol di samping ruang OSIS, sebelah barat pintu laboratorium biologi yang berbatasan dengan perpustakaan ini. Aktivis-aktivis SMU 1.

            Sementara jauh di depan sana. Di seberang lapangan upacara. Di halaman sport hall sekolah, masih dapat kulihat sosok pak Dirman, guru olah raga sekaligus pelatih ekskul bola basket kami. Dia berjalan mondar-mandir dan nampak berteriak-teriak memberikan instruksi pada tim basket sekolah. Latihan perdana menghadapi kompetisi bola baket antar SMU sekodya dimulai hari ini. Dan, namaku tidak tercantum.

            Kulemparkan saja tas sekolahku hingga buku-buku di dalamnya berhamburan di lantai sesampaiku di kamar. Aku duduk di tepi kasur tanpa ranjang yang berseprei penuh dengan ornamen bunga matahari berwarna kuning.

            Pandanganku nanar menatapi benda-benda yang menjadi bagian dari kamar ini. Di atas pintu, menempel ring basket kecil dengan papan pantul berwarna biru. Sementara di sudut kamar tergantung kaos tim Atlanta Hawk dengan nama Sharif Abdurrohim di punggungnya. Pemain favoritku. Yang tiap kali kupandangi dialah selalu mengingatkanku pada semangatnya. Semangat bertanding seperti dia di NBA di sisi lain kamar ini. Di bawah kaligrafi bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim dengan khas bergaya Arab khufi, terpasang foto berbingkai kayu itu terdapat gambarku mengenakan seragam basket diapit papa dan mama yang memegang bola. Kenangan itu, selalu ada dibatinku. Di atas meja belajar nampak pula beberapa majalah olahraga berjajar memenuhi rak buku. Sunyi.

            Aku mendesah. Rasa kesal itu belum hilang. Kurebahkan tubuhku dan kucoba memejamkan mata. Namun, yang terlintas dalam benakku Cuma sebuah bayangan menakutkan. Bayangan tentang diriku sendiri. Ini tidak adil. Benar-benar tidak adil.

            Basket adalah obsesiku. Aku ingin menjadi pemain profesional. Hingga tak pernah kuluangkan waktu seharipun tanpa berlatih. Mama dan papa selalu memberiku dorongan. Sesibuk apappun, mereka selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan aku ditiap pertandinganku. Aku masih ingat, dulu papa pernah berucap:

“Raihlah, bila itu keinginanmu. Dengan usahamu sendiri. Tapi ketahuilah, itu semua bukanlah perjuangan dalam semalam.”

            Kucoba buktikan perkataan beliau, sedari SMP, lapangan basket merupakan ruang kelasku yang kedua. Di sana aku belajar. Belajar tantang banyak hal. Kuakui, sedikit banyak kudapatkan sesuatu yang baru dari sana. Juga tentang keyakinan ini. Keyakinan yang membuat aku begitu yakin akan mampu menjadi yang terbaik. Sampai kenyataan ini membenturku. Kenyataan yang baru kusadari setelah hari, minggu, bahkan dalam hitungan tahun terlewati, saat kucoba untuk mewujudkan bagian dari impianku, ternyata cuma untuk turut serta dalam kompetisi bila basket antar SMU pun aku tidak mampu. Pecundang.

            Aku mendengus keras. Pasti ada yang salah. Ya, pasti. Akulah kesalahan itu. Aku yang tak bisa berlari cepat. Aku yang tak mampu melompat tinggi, juga gerakanku yang tidak segesit mereka.

            Aku menerawang. Ini pasti karena aku terlalu gemuk. Postur tubuhku pun tidak ideal bagi seorang pemain basket. Tapi, ini tidak fair. Sangat tidak adil. Mengapa harus aku. Mengapa musti aku yang bertubuh gendut. Bukan mereka. Entah darimana datangnya, tiba-tiba kurasakan kebencianku membuncah. Kebencian irrasional. Aku mulai membenci tubuhku sendiri. “Tuhan tidak adil” pekikku tertahan.

            Bola melambung dan membentur papan. Meleset. Sudah yang kesekian kalinya shootingku tidak akurat. Bola kini berpindah tangan. Bang Andre mendrible. Ia menunjukkan kemampuannya sebagai pemain inti tim basket fakultas di kampusnya. Tubuhnya melayang sesaat, kemudian ia sudah bergelantungan di ring. Sempurna.

            Kuambil bola dan kembali kucoba untuk menembakkannya ke ring. Terlalu pelan. Hingga hanya menyambar jaringnya saja.

            “hei...ada masalah?” Aku tersentak. Masalah, batinku. Masalahnya adalah aku. Aku yang terlalu gemuk hingga gerakanku lamban. Coba, andai aku bisa lebih kurus, aku pasti bisa segesit itu, lompatanku pasti juga akan lebih tinggi. Lagi-lagi bayangan itu muncul kembali. Kebencian menyeruak menutupi benak hingga tersisa Cuma rasa benci.

            “Dari tadi aku perhatikan permainanmu jelek. Kenapa, kamu sakit?”

            Tangan kekar itu menyentuh bahuku.

            “Ah...tidak. tidak, Bang Cuma...”

            “Cuma apa?”

            Aku mendesah. Kumainkan bola basket di tangan dan membiarkannya berputar-putar di ujung jariku. Ku edarkan pandangan mengitari lapangan. Lapangan basket yang hanya berjarak tiga blok dari rumahku. Sepi, sesepi hari yang lain.

            Di sini cuma ada aku dan bang Andre, dialah satu-satunya penghuni blok F di perumahan ini yang kukenal. Aku yang kuper atau para penghuninya terlalu individualis. Entah.

            Sejenak aku duduk terpekur di lantai lapangan. Kemudian meluncurlah dari mulutku semuanya. Kuceritakan padanya tentang keinginan, perjuangan selama ini juga tentang kegagalan itu. Kegagalan yang tidak semestinya ada. Karena kata gagal tak pernah aku jumpai dalam kamus hidupku.

            Bang Andre menatapku. Lama sekali. Hingga membuatku jengah.

            “Husna, kita duduk disana.” Katanya sambil menunjukkan sepetak tanah kosong tidak jauh dari lapangan. Sepetak tanah yang berbatasan langsung dengan areal persawahan di tepi luar perumahan.

            Aku bangkit. Kuikuti saja langkah bang Andre yang meninggalkan jejak bayangan panjang dari tubuhnya yang tertimpa cahaya matahari sore. Keheningan melingkupi hingga kebisuan menebarkan pesonanya di antara pucuk-pucuk padi hijau yang berayun tersapu angin di depan sana.

            Kulirik sosok yang duduk di sebelahku. Rambut sebahunya berderai diterpa angin. Masih saja mata yang tajam itu terpaku menatap redup matahari di ujung langit. Petang selalu mengagumkan. Batinku, bulatan besar berwarna merah di cakrawala dibayangi langit jingga dengan siluet awan keperakan. Distorsi warna biru kelabu berbaur jingga seperti menjadi harmoni. Pada lukisan langit senja.

            “Husna, kau lihat itu...?” katanya tanpa menoleh ke arahku.

            “ya....,”

            “Indahkah itu semua...”

            Kucoba memahami pertanyaannya. Indah. Tentu saja. Sangat indah bagiku. Dan dia pun tahu itu. Sering aku memergoki dia sedang menatap langit sore dari loteng rumahnya. Kurasa, ia pun menikmati indahnya horizon saat sore.

            “Seperti apakah warnanya...?”

            Pertanyaan filosofis. Semua tahu warna langit senja. Harmoni dalam matahari merah di antara siluet awan membentuk sketsa abstrak. Sketsa berwarna jingga.

            “Maksudnya...?” Aku berbalik bertanya.

            Bang Andre tertawa kecil. Ia rebahkan badannya dan menatap lepas ke atas. Ke langit yang belum sepenuhnya gelap.

            “Aku tidak pernah bisa merasakan indahnya kesempurnaan warna-warna, pun dari langit senja ini.” Ujarnya pelan seperti berbisik.

            Aku makin tidak paham. Bicara apa dia.

            “Tapi pernahkah kau melihat aku mengeluh...?” sesaat ia menoleh ke arahku.

            “Pernahkah menyaksikan aku menyalahkan atas apa yang menimpaku atau sampai berpikiran sempit dengan menganggap Allah itu tidak adil?”

            Aku tertohok. Namun, apa sebenarnya maksud pembicaraan ini. Ia menarik nafas dalam.

            “Aku menderita buta warna.” Ucapnya datar.

            Namun membuatku terhenyak. Lidahku mendadak kelu hingga terasa sulit untuk kembali bersuara. “Bu...buta warna...” desisku. Terbayang olehku menatap remang layar dunia bertirai keterbatasan warna.

            “Namun, aku tidak marah atau merasa perlu meratapinya. Tidak, tidak akan. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Bersyukur, itu saja. Aku masih dikaruniakan banyak keindahan. Termasuk hingga detik ini masih dapat kusaksikan anggunnya senja. Dalam siluet.”

            Badanku tersentak. Kusarankan sesuatu menjalari tubuhku.

            “Husna...” ucapnya kemudian. Lirih. “Seperti apapun hidup, syukurilah. Pahami dalam setiap rangkaiannya pasti ada makna. Sebab tak ada yang sia-sia di dalam hiduku, hidupmu juga kehidupan ini.”

            Perasaan aneh seperti menderu di kedalaman relung jiwa. Rasa berdosa seolah telah menamparku. Aku tertunduk lemah bak kehilangan tulang penyangga tubuh. Tiba-tiba aku merasa sangat inmgin menangis. Sangat ingin menumpahkan airmata penyesalan ini pada sebuah sujud panjang.

            Astagfirullah...” gumamku terpatah-patah. Terlalu lirih mungkin desahku itu hingga seperti hilang tertelan desir angin petang.

                                                                           

Annida, Nomor 26/XI/25 September 2002

Tidak ada komentar: