Senin, 02 Agustus 2021

MATERI TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI

LEMBAR MATERI DAN SOAL

(TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI)

 

Nama Sekolah

 SMA Negeri 1 Lawang Kidul

Mata Pelajaran

Bahasa Indonesia (Wajib)

Kelas/Semester

X/ Ganjil

Materi Pokok

Teks Laporan Hasil Observasi

Guru Mata Pelajaran

Winda Iriyanti, S.Pd.

 

Lampiran Materi

 

Teks Laporan Hasil Observasi

1. Pengertian Teks Laporan Hasil Observasi

a.      Teks Laporan hasil observasi adalah teks yang berisi penjabaran umum mengenai sesuatu yang disusun dan didasarkan pada hasil pengamatan dan fakta yang ada melalui kalimat deskripsi.

b.     Teks Laporan hasil observasi adalah Teks yang berfungsi menjelaskan suatu objek atau fenomena yang didasari oleh hasil pengamatan. Dalam penyusunannya, teks ini memaparkan fakta-fakta dengan jelas dan terperinci

 

2. Struktur isi teks laporan hasil observasi

1.        Definisi Umum

Dibagian ini, pembahasan harus memiliki gambaran umum yang membuat informasi tentang objek observasi, waktu observasi, asal usul, lokasi observasi dan informasi umum lainnya.

Misalnya dari contoh laporan hasil observasi di atas, definisi umum terletak pada informasi tentang sampah plastik menimbulkan masalah lingkungan. Penggunaan bahan plastik pada kehidupan manusia menyumbang sampah plastik.

2.        Deskripsi Bagian Atau Isi

Berisi inti dari hasil observasi yang dilakukan, dapat berupa klasifikasi yang bersifat teknis dan deskripsi yang menjelaskan masalah secara lebih spesifik. Misalnya, jika kamu melakukan observasi tentang pencemaran sampah plastik, kamu bisa menunjukkan data yang lebih spesifik.

Kamu bisa menggambarkan tampilan plastik yang mencemari lingkungan, zat-zat yang terurai, seperti apa tingkat pencemarannya, siap yang terdampak, jenis yang paling banyak ditemukan, bahkan menunjukkan produsen pembuat plastik yang menimbulkan masalah pencemaran lingkungan.

3.        Deskripsi Manfaat

Bagian ini juga berfungsi sebagai penutup laporan. Penulis bisa menjelaskan tentang manfaat dari laporan yang dikerjakan, misalnya sebagai masukan kepada pemerintah atau dinas terkait agar segera mengatasi masalah yang terjadi. Atau bagaimana cara pemanfaatan sampah agar menjadi benda yang berguna bagi manusia.

 

3. Ciri-Ciri Bahasa teks laporan hasil observasi

Ciri-ciri dari teks hasil observasi adalah sebagai berikut:

  • Berisi pembahasan berupa ilmu tentang satu objek.
  • Membahas objek yang bersifat umum.
  • Bertujuan menjelaskan dari sudut pandang ilmu.
  • Membahas objek secara sistematis dan terstruktur yang merinci setiap bagian dengan objektif.

 

Teks laporan sering dimulai dengan kalimat definisi tentang penggolongan atau klasifikasi.

seperti contoh: (a) Mamalia adalah binatang yang menyusui. atau (b) “Kucing besar” itu adalah hewan pemangsa dan pemakan daging.

Dalam laporan observasi sering digunakan kelompok nomina (kata benda) dengan penjenis dan kelompok nomina dengan pendeskripsi.

Kelompok nomina dg penjenis tidak bisa disisipi oleh kata apa pun. Kedua kata itu harus saling berdekatan.

Kelompok nomina dg pendeskripsi dapat disisipi, misalnya dengan kata penyangat, seperti sangat atau terlalu dan kata pewatas seperti yang.

disajikan secara menarik, baik dalam hal tata bahasa yang jelas, isinya berbobot, maupun susunan logis.

 

 

4. Kaidah kebahasaan Teks Laporan hasil observasi

Berikut adalah beberapa kaidah kebahasaan teks laporan hasil observasi:

  • Menggunakan kata benda atau peristiwa umum sebagai objek utama pemaparannya.
    Contoh: komodo
  • Menggunakan kata kerja definisi, seperti adalah, merupakan, yaitu.
    Contoh: Lumba-lumba hidung botol merupakan mamalia laut yang dapat hidup 40 – 50 tahun.
  • Menggunakan kata pengelompokkan, seperti dipilih, dikelompokkan, terbagi, terdiri atas.
    Contoh: Sampah terbagi menjadi sampah organic dan anorganik.
  • Menggunakan istilah pada bidang ilmu tertentu.
    Contoh: Tursiops truncates, blowhole, blubber

 

5. Langkah-langkah penyusunan teks laporan hasil observasi

Untuk membuat teks laporan hasil observasi agar lebih mudah, maka langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

·         Melakukan observasi objek penelitian yang akan dijadikan judul laporan

·         Menentukan judul laporan yang baik dan benar sesuai dengan pengamatan yang dilakukan

·         Menusun kalimat pembuka

·         Menusun isi laporan yang berisi gagasan atau ide pokok dan saran yang disertai alasan terhadap laporan hasil pengamatan.

·         Menulis kalimat penutup.

·         Untuk menyusun teks laporan hasil observasi setiadaknya anda harus melihatkan  5W + 1 H dengan uraian sebagai berikut:What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (dimana), Why (mengapa), How (Bagaimana)

 

6. Untuk membuat teks hasil observasi yang menarik maka syarat-syarat di bawah ini harus terpenuhi:

·         Objek yang akan diamati harus menarik.

·         Objektif.

·         Disusun secara sistematis.

·         Dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

·         Menggunakan bahasa yang efektif dan logis.

 

Contoh teks laporan hasil observasi

Berikut adalah salah satu contoh teks laporan hasil observasi tentang sampah:

 

Sampah

 

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah dapat bersumber dari alam, manusia, konsumsi, nuklir, industri, dan pertambangan. Sampah di bumi akan terus bertambah selama masih ada kegiatan yang dilakukan oleh baik alam maupun manusia. Sampah yang dihasilkan di Indonesia mencapai 11.330 ton per hari. Sampah dapat dibedakan berdasarkan sifat dan bentuknya. Berdasarkan sifatnya, sampah bibagi menjadi dua, yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang dapat diuraikan atau degradable.

Contoh sampah organik adalah sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah menjadi kompos. Sedangkan sampah anorganik merupakan sampah yang tidak mudah diuraikan atau

undegradable.

 

Contoh sampah anorganik adalah sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik, kayu, kaca, kaleng, dan sebagainya. Sampah anorganik didaur ulang oleh home industry untuk mengurangi jumlah sampah serta dijadikan sebagai peluang usaha. Berdasarkan bentuknya, sampah dapat dibedakan menjadi sampah padat, cair, alam, konsumsi, manusia dan radioaktif.

 

Sampah padat adalah sampah yang berwujud padat. Sampah padat dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Sampah organik dan anorganik termasuk sampah padat. Sampah ini dapat dibedakan berdasarkan kemampuan diurai oleh alam atau biodegrability menjadi sampah padat biodegradable (sampah yang dapat diuraikan oleh proses biologi) dan sampah padat non-biodegradable (tidak dapat diuraikan oleh suatu proses biologi. Sampah padat non-biodegradable ada dua jenis yaitu recyclable (dapat diolah kembali) dan non-recyclable (tidak dapat diolah kembali).

 

Sampah Cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan lagi seperti limbah. Limbah adalah sampah cair yang dihasikan dari aktivitas industri. Limbah dapat dibagi menjadi dua yaitu limbah hitam dan limbah rumah tangga. Limbah hitan adalah sampah cair yang mengandung patogen berbahaya yang berasal dari toilet, sedangkan limbah rumah tangga adalah sampah cair yang dihasiklan dari dapur, kamar mandi, dan tempat cucian.

 

Sampah alam merupakan sampah yang diproduksi oleh alam dan diuraikan melalui proses daur ulang alami. Contoh dari sampah alam adalah daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah. Sampah manusia adalah istilah yang digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah manusia dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia karena dapat dikatakan sebagai sarana perkembangan penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri.

 

Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh kegiatan konsumsi manusia dan dibuang ke tempat sampah. Jumlah sampah konsumsi sampai sekarang tidak melebihi jumlah sampah industri. Limbah radioaktif adalah sampah nuklir yang merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium. Limbah radioaktif berbahaya bagi lingkungan dan kehidupan manusia karena menghasilkan radiasi yang berdampak buruk terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu sampah nuklir disimpan ditempat-tempat yang tidak berpotensi tinggi.

(http://referensisiswa.blogspot.com/2017/01/teks-laporan-hasil-observasi-pengertian.html)

 


Rabu, 17 Maret 2021

Pengertian Teks Drama, Struktur, Ciri-ciri, Jenis-jenis, serta Unsur Intrinsik dan Unsur Ekstrinsiknya

Pengertian Teks Drama, Struktur, Ciri-ciri, Jenis-jenis, serta Unsur Intrinsik dan Unsur Ekstrinsiknya

Teks drama merupakan materi bahasa Indonesia kelas 11/XI. Adapun beberapa materi pokok yang akan dijelaskan meliputi: pengertian teks drama, struktur, ciri-ciri, jenis-jenis, serta unsur intrinsik dan unsur ekstrinsiknya.


Pernahkah kalian menonton drama di televisi? Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan teks drama? Pengertian teks drama drama menurut Hasanuddin adalah kesenian yang melukiskan sikap dan sifat manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan perilaku (Hasanuddin, 1996:2).


Hasanuddin mengatakan kata drama berasal dari kata Yunani yaitu draomai yang berarti bertindak, berlaku, berbuat, bereaksi, dan lain sebagainya, jadi drama berarti suatu tindakan atau perbuatan (Hasanuddin, 1996:2).

Senada dengan Harymawan juga mengatakan bahwa kata drama berasal dari kata Yunani draomai (Haryamawan, 1998:1). Pengertian drama menurut Harymawan RMA adalah kualitas komunikasi, situasi, aksi, (segala apa yang nampak dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan, dan tegangan pada penonton atau pendengar.

Pengertian Teks Drama Menurut Para Ahli


Ferdinan Brunetiere dan Baltthazar Verhagen


Apa itu drama? Menurut Ferdinan Brunetiere dan Baltthazar Verhagen adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan perilaku.

Moulton


Pengertian drama menurut Moulton adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak drama adalah menyaksikan kehidupan yang diekspresikan secara langsung. Jika buku roman menggerakkan fantasi kita, maka dalam drama kita melihat kehidupan yang diekspresikan secara langsung di muka kita sendiri.



Budianta dkk


Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan diantara tokoh-tokoh yang ada (Budianta dkk, 2002:95).

Krell dan Friedler


Pendapat Krell dan Friedler (dalam Nurhayati, 2000:9) tentang drama adalah drama melukiskan suatu perbuatan yang dilakukan oleh pelaku cerita untuk mencapai tujuan tertentu, di mana dalam usahanya untuk mencapai tujuan tersebut ia menghadapi hambatan dan rintangan; dipertunjukkan lewat gerak dan dialog.

Brander Mathews


Menurut Brander Mathews, konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.


Dari beberapa pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa drama termasuk ragam sastra karena ceritanya bersifat imajinatif dalam bentuk naskah drama, selain itu drama bukanlah sekedar teks yang dimainkan, dilakonkan, dipentaskan karena itu penikmatnya dapat secara langsung menyaksikan, menonton pementasan drama\

Drama merupakan suatu pertunjukan yang membawakan sebuah cerita, media yang digunakan untuk menyampaikan cerita tersebut melalui gerak dan dialog-dialog yang dilakukan oleh para tokohnya.

Struktur Teks Drama

Struktur Drama

Adapun struktur drama terdiri atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
  1. Prolog: kata pendahuluan sebagai pengantar untuk memberikan gambaran umum tentang pelaku, konflik atau hal yang terjadi dalam drama.
  2. Dialog: percakapan antara dua orang atau lebih. Dialog merupakan hal yang penting dalam drama. Dalam drama harus ada penjiwaan emosi dan juga dialog disampaikan dengan pengucapan kata serta volume suara yang jelas.
  3. Epilog: kata penutup yang mengakiri suatu pementasan drama. Epilog berguna untuk merumuskan isi pokok drama.


Adapun adegan hanya melingkup satu pilahan-pilahan dialog antara beberapa tokoh.
  1. Orientasi: memperkenalkan para tokoh, menyatakan situasi cerita, mengajukan konflik yang akan dikembangkan dalam bagian utama cerita.
  2. Komplikasi atau bagian tengah cerita: pelaku uama menemukan rintangan-rintangan antara dia dan tujuannya, mengalami aneka kesalahpahaman dalam perjuangan untuk menanggulangi rintang-rintangan tersebut.
  3. Resolusi atau denouement: titik batas yang memisahkan antara komplikasi dan resolusi, biasanya disebut klimaks (turning point). Pada klimaks terjadi perubahan penting mengenai nasib pelaku utama.


Jenis-jenis Teks Drama


Menurut Budianta secara pokok ada 5 (lima) jenis drama, yaitu: tragedi, komedi, tragikomedi, melodrama, dan farce. Penjelasannya sebagai berikut.

  1. Tragikomedi: sebuah sajian drama yang menggabungkan antara tragedi dan komedi.
  2. Melodrama: sebuah pementasan yang ketika tanpa ada cakapan apapun, emosi dibangun melalui musik.
  3. Farce: secara umum dapat dikatan sebagai sebuah sajian drama yang bersifat karikatural atau komedi yang dilebih-lebihkan.


Dalam Asmara (1983:12), jenis-jenis drama dibedakan kedalam tiga kategori yaitu tragedi, sandiwara, dan komedi.
  1. Tragedi merupakan jenis drama tertua yang muncul dari upacara kehidupan dan kematian bangsa Dyonesis di Yunani yang diarahkan ke dimensi-dimensi kehidupan dan karakter manusia yang serius.
  2. Sandiwara menurut Haerkotter adalah sebuah bentuk lain dari tragedi. 
  3. Komedi yaitu pelaku utamanya dilibatkan dalam kesalahan-kesalahan sendiri seperti kesombongan, kebanggan atau dalam komplikasi hubungan-hubungan di luar dirinya.


Berdasarkan penyajian lakon, drama dibagi menjadi 7 (tujuh) jenis, yaitu:
  1. Tragedi: drama yang berakhir dengan kesedihan.
  2. Komedi: drama yang penuh dengan kelucuan.
  3. Opera: drama yang dialognya diiringi musik.
  4. Melodrama: hampir mirip dengan opera yaitu drama yang dialognya diucapkan dengan diiringi melodi atau musik.
  5. Farce: drama yang menyerupai dagelan, namun tidak sepenuhnya dagelan.
  6. Tablo: drama yang mengutamakan gerak, para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan.
  7. Sendratari: jenis drama gabungan antara seni drama dan seni tari.


Berdasarkan sarana pementasannya, jenis drama dibagi menjadi 6 (enam) yaitu:
  1. Drama panggung: jenis drama yang dimainkan oleh pelaku di panggung.
  2. Drama radio: drama yang hanya bisa didengarkan oleh penikmat, tidak bisa dilihat dan diraba.
  3. Drama televisi: hampir mirip dengan drama panggung, bedanya drama televisi tidak dapat diraba.
  4. Drama film: drama yang menggunakan layar lebar biasanya dipertunjukkan bioskop.
  5. Drama wayang: jenis drama yang diiringi pegelaran wayang.
  6. Drama boneka: para pelaku darama digambarkan dengan boneka yang dimainkan oleh beberapa orang.


Berdasarkan ada atau tidaknya naskah drama, jenis drama dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
  1. Drama tradisional: jenis drama yang tidak menggunakan naskah.
  2. Drama modern: jenis drama yang menggunakan naskah.


Unsur-unsur Teks Drama


Unsur-unsur drama dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu unsur-unsur intrinsik dan unsur-unsur ekstrinsik. Penjelasannya sebagai berikut.

Unsur-unsur Intrinsik Drama


Berikut ini unsur-unsur intrinsik drama yaitu:

Tokoh dan Perwatakan


Penokohan adalah proses penampilan tokoh sebagai pembawa peran watak tokoh dalam suatu pementasan drama (Budiyati, 2009:26). Tokoh dalam seni sastra termasuk drama disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. Proses penokohan dapat juga disebut perwatakan atau karakterisasi. Dapat disimpulkan bahwa perwatakan adalah pelukisan tokoh cerita melalui sifat-sifat dan sikap dalam cerita.

Latar


Latar (setting) dalam arti yang lengkap meliputi aspek ruang dan waktu terjadinya peristiwa serta aspek suasana (Budiyati, 2009:31).

Bahasa


Analisis unsur bahasa adalah analisis dialog dalam teks darama. Dialog adalah percakapan antara dua orang atau lebih tokoh (Budiyati, 2009:32).

Watak


Watak adalah perilaku yang diperankan oleh pelaku utama. Watak protagonis adalah watak perilaku baik yang diperankan oleh tokoh. Sedangkan watak antagonis adalah watak perilaku jahat yang diperankan oleh tokoh.

Alur


Menurut Riris K. Sarumpaet (dalam Budiyati, 2009:28). Alur adalah rangkaian peristiwa yang terjalin berdasarkan hukum sebab akibat; dan merupakan pola, perkaitan peristiwa yang menggerakan jalannya cerita ke arah pertikaian dan penyelesaiannya.

Tema


Tema adalah penggarapan gagasan pokok yang didukung oleh jalinan unsur tokoh, alur, dan latar cerita serta diformulasikan lewat dialog.

Amanat


Amanat adalah pesan yang disampaikan oleh pengarang melalui lakon dramanya, dan bagaimana jalan keluar yang diberikan pengarang terhadap permasalahan yang dipaparkannya.

Unsur Ekstrinsik Drama


Unsur ekstrinsik drama adalah segala macam unsur yang berada di luar teks drama, tetapi ikut berperan dalam keberadaan teks drama tersebut. Unsur-unsur itu antara lain:
  • Biografi atau riwayat hidup pengarang.
  • Filsafah hidup pengarang.
  • Unsur sosial budaya masyarakatnya yang dianggap dapat memberikan masukan yang menunjang penciptaan karya drama tersebut.


Ciri-ciri Teks Drama


Berikut ini ciri-ciri teks drama yang harus kalian ketahui.
  • Seluruh cerita berbentuk dialog, baik narator maupun tokoh.
  • Semua dialog pada drama tidak menggunakan tanda petik.
  • Naskah drama dilengkapi dengan petunjuk tertentu yang harus dilakukan oleh tokoh pemerannya.
  • Naskah drama terletak diatas dialog atau disamping kiri dialog.
  • Mesti ada konfliks, aksi.
  • Drama harus dilakonkan.
  • Tempo masa kurang dari 3 jam.
  • Tidak ada ulangan dalam satu masa.

Demikianlah artikel hari ini tentang materi teks drama yang meliputi pengertian, struktur, jenis-jenis drama, unsur intrinsik dan ekstrinsiknya beserta ciri-cirinya. Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terima kasih.

Senin, 09 November 2020

Puisi tentang Corona

Puisi awal untuk materi belajar pertama di masa pandemi covid 19 tanggal 8 April 2020



Minggu, 08 November 2020

Gaya Bahasa dan contohnya

Assalamuallaikum., Wr.,Wb.,

Di dalam karya sastra tentunya terdapat gaya bahasa yang sangat menarik yang dituangkan dalam goresan penanya si penulis. berikut adalah contoh-contoh gaya bahasa yang sering kita temui dalam karya sastra. 

Gaya Bahasa (Majas) perbandingan

Majas perbandingan adalah majas yang menyatakan perbandingan. Perbandingan tersebut diungkapkan dengan cara yang berbeda-beda terganting dengan bahasa yang digunakan.

Majas perbandingan dapat dikembangkan lagi menjadi majas-majas berikut ini:

1. Majas Personifikasi

Majas personifikasi yang seolah-olah menjadikan benda mati seolah-olah makhluk hidup. Contohnya:

  • Ia membiarkan pulpen itu menari-nari di atas kertas untuk menghasilkan tulisan mengagumkan.

    Penjelasan: Pulpen di personifikasikan seperti manusia yang mampu menari, padahal tidak
  • Daun yang tertiup angin berjoget layaknya tidak memiliki masalah.

    Penjelasan: Daun di personifikasikan seperti manusia yang mampu berjoget, padahal tidak

2. Majas Tropen

Majas tropen merupakan majas yang menggunakan kata-kata uang tepat atau sejajar untuk mengambarkan kondisi atau pengertian tertentu. Contohnya:

  • Andini telah terbang menggunakan pesawat Sriwijaya, maka jangan kau hanyut dalam kesedihan berkepanjangan.

    Penjelasan: Perbandingan yang diutarakan dalam kalimat tersebut adalah jangan sedih yang berkepanjangan karena Andini telah pergi juga.

3. Majas metafora

Majas metafora merupakan majas yang menggunaan suatu benda atau objeck untuk menggambarkan sifat yang ingin diutarakan. Contohnya:

  • Meskipun Nina adalah anak emas, dia tidak pernah manja pada orang tuanya.

    Penjelasan: Anak emas berarti anak kesayangan, bukan anak yang terbuat dari emas.
  • Warga yang ketahuan mencuri akan menjadi buah bibir orang-orang di sekitarnya.

    Penjelasan: Buah bibr berarti bahan pembicaraan, bukan buah yang berbentuk bibir.

4. Majas Asosiasi

Majas asosiasi merupakan majas yang digunakan untuk membandingkan dua objek berbeda yang dianggap sama, biasanya ditandai dengan penggunaan kata bagaikan, seperti ataupun bak. Contohnya:

  • Wajah kedua orang itu sangat mirip bak pinang dibelah dua.

    Penjelasan: Wajah kedua orang tersebut karena kembar diibaratkan oleh buah pinang yang dibelah dua.
  • Teman-teman Rina bosan jika ia berpendirian bagai air di daun talas.

    Penjelasan: Berpendirian yang berubah-ubah diibaratkan seperti air di daun talas.

5. Majas Hiperbola

Majas hiperbola merupakan majas yang mengungkapkan sesuatu dengan cara melebih-lebihkan hal tersebut, terkadang perbandingan yang duat terasa tidak masuk akal. Contohnya:

  • Ayah bekerja siang malam membanting tulang tanpa memperhatikan kesehatannya sendiri.

    Penjelasan: bekerja membanting tulang maksudnya bekerja dengan keras
  • Suaranya ketika menyanyi membuat hancur seisi dunia.

    Penjelasan: suaranya sangat buruk seakan menghancurkan seisi dunia

6. Majas Eufemisme

Majas eufemisme merupakan majas yang menggunakan kata sopan atau sepadan yang lebih halus untuk mengganti kata yang kurang etis. Contohnya:

  • Penderita difabel tetap bisa mengikuti kegiatan perkuliahan dibantu oleh dosen khusus.

    Penjelasan : kata difabel digunakan untuk mengganti kata cacat.
  • Penyandang tuna rungu bisa mengakses layanan perpustakaan kampus.

    Penjelasan: Tuna rungu digunakan untuk mengantikan kata tuli.

Gaya bahasa (majas) Pertentangan

Majas pertentangan merupakan majas yang menggunakan kata kiasan bertentangan dengan fakta sesungguhnya.

Majas pertentangan dapat dikembangkan lagi menjadi majas-majas berikut ini:

1. Majas paradoks

Majas paradoks merupakan majas yang membandingkan situasi sebenarnya dengan kebalikannya. Contoh:

  • Lila merasa kesepian di tengah keramaian.
    Penjelasan: keadaan sepi bertentangan dengan keramaian
  • Badannya itu kecil, tapi dia sangat kuat
    Penjelasan: tubuh yang kecil berbanding terbalik dengan kekuatan

2. Majas Litotes

Majas litotes digunakan untuk merendahkan diri, meskipun keadaan sebenarnya lebih bagus dari apa yang diungkapkan. COntoh

  • Kapan-kapan jika pergi ke Bogor, saya harap Anda mau mampir ke gubuk kami.

    Penjelasan: Gubuk yang dimaksud adalah rumah yang megah
  • Selamat menikmati hidangan ala kadarnya ini!

    Penjelasan: Makanan ala kadarnya di sini adalah makanan yang lengkap lauk, pauk dan sayur.

3. Majas antitesis

Majas antitesis merupakan majas yang menggabungkan kata yang saling bertentangan. Contohnya:

  • Baik buruk perbuatannya akan mendapatkan balasan suatu saat nanti.

    Penjelasan: Baik dan buruk kata yang bertentangan dan disandingkan menjadi satu
  • Jangan pernah menilai seseorang hanya melihat benar salah perbuatannya.

    Penjelasan: benar dan salah kata yang bertentangan dan disandingkan menjadi satu

Gaya bahasa (majas) sindirian

Majas sindiran merupakan majas yang menggunakan kata kiasan untuk mengungkapkan sindiran kepada sesuatu atau seseorang.

Majas sindiran dapat dikembangkan lagi menjadi majas-majas berikut ini:

1. Majas Ironi

Majas ironi merupakan majas yang menggunakan ungkapan bertentangan dengan fakta, biasanya majas ini seakan-akan memberi pujian tetapi sebenarnya merupakan suatu sindiran. Contohnya:

  • Rajin sekali, jam dua belas baru bangun.

    Penjelasan: Jelas-jelas jam 12 sudah siang, tetapi diungkapkan dengan kata rajin
  • Sudah berapa hari tidak mandi? Kok badanmu sangat harum.

    Penjelasan: Tidak mandi tetapi badannya sangat harum, padahal jika tidak mandi berbau busuk

2. Majas Sinisme

Majas sinisme adalah majas yang menyampaikan sindiran secara langsung pada objek yang dimaksud. Contohnya:

  • Gulingmu sangat bau, seperti tidak pernah dicuci.
    Penjelasan: Secara langsung menjelaskan keadaan sebenarnya
  • Badannya gemuk sekali seperti orang yang kelebihan gizi.
    Penjelasan: Secara langsung menjelaskan keadaan sebenarnya

3. Majas Sarkasme

Majas sarkasme adalah majas sindirian yang menggunakan ungkapan atau kata kasar. Penggunaan majas ini bisa saja melukai perasaan orang yang sedang mendengarnya. Contohnya:

  • Pergi dari sini! Kamu hanyalah sampah masyarakat yang harus dimusnahkan dari muka bumi ini.

    Penjelasan: Penggunaan sampah mesyarakat merupakan kata sarkas untuk menggambarkan orang yang sangat bodoh.
  • Kau ini benar-benar otak udang!

    Penjelasan: Penggunaan otak udang merupakan kata sarkas untuk menggambarkan orang yang sangat bodoh.

Gaya bahasa (majas) penegasan

Majas pertentangan merupakan majas yang menggunakan kata kiasan untuk meningkatkan pengaruh kepada pembacanya supaya menyetujui sebuah ujaran, atau kejadian.

Majas penegasan dapat dikembangkan lagi menjadi majas-majas berikut ini:

1. Gaya bahasa atau majas Pleonasme

Majas pleonasme merupakan majas yang menggunakan kata bermakna sama untuk menegaskan sesuatu. contohnya:

  • Majulah ke depan agar orang-orang bisa menyaksikan penampilanmu.
  • Turunkan tangan ke bawah setelah menjawab soal yang diberikan guru.

2. Majas Repetisi

Majas repetisi adalah majas yang menggunakan kata berulang pada kalimat. contohnya:

  • Dia adalah penyebabnya, dia si perusak barang, dia yang membuat kotak ini rusak.
  • Saya ingin menjadi lebih baik, saya ingin membanggakan orang tua, saya ingin membuat mereka bahagia.

3. Majas klimaks

Majas Klimaks adalah majas yang digunakan untuk mengurutkan gagasan dari yang terendah sampai tertinggi. Contohnya:

  • Bayi, anak kecil, remaja, orang dewasa hingga orang tua sekarang diwajibkan memiliki Kartu Tanda Penduduk.
  • Uang ratusan rupiah pun saya tidak punya, apalagi ribuan, jutaan, milyaran, triliunan.

4. Majas antiklimaks

Berkebalikan dengan majas klimaks. Majas antiklimaks adalah majas mengurutkan gagasan dari tinggi ke rendah. Contohnya:

  • Kini kekeringan melanda rata di seluruh perkotaan, pedesaan hingga pegunungan.
  • Jangankan satu juta rupiah, seratus ribu rupiah, sepuluh ribu rupiah bahkan seratus rupiah pun saya tidak punya.

 

MENGANALISIS UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK ROBOHNYA SURAU KAMI

 

                                                            ROBOHNYA SURAU KAMI

SINOPSIS :

Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin.

Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok.

Kehidupan orang ini hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.

Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau yang kerap disapa Kakek itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya.

Ajo Sidi bercerita sebuah kisah tentang Haji saleh. Haji saleh adalah orang yang rajin beribadah menyembah Tuhan. Ia begitu yakin ia akan masuk ke surga. Namun Tuhan Maha Tau dan Maha Adil, Haji Saleh yang begitu rajin beribadah di masukan ke dalamma neraka. Kesalahan terbesarnya adalah ia terlalu mementingkan dirinya sendiri. Ia takut masuk neraka, karena itu ia bersembahyang. Tapi ia melupakan kehidupan kaumnya, melupakan kehidupan anak isterinya, sehingga mereka kocar-kacir selamanya. Ia terlalu egoistis. Padahal di dunia ini kita berkaum, bersaudara semuanya, tapi ia tidak memperdulikan itu sedikit pun. Crita ini yang membuat kakek tersindir dan merasa dirinya murung.

Kakek  memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau membuat rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur.

Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja.

 

 

UNSUR INTRINSIK :

 

• Tema            :Tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya.

• Amanat        : 1) jangan cepat marah kalau diejek orang,

2) jangan cepat bangga kalau berbuat baik,

3) jangan terpesona oleh gelar dan nama besar,

4) jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki, dan

5) jangan egois.

• Latar

-Latar Tempat 

kota, dekat pasar, di surau, dan sebagainya

-Latar Waktu

            Beberapa tahun yang lalu.

 

• Alur (plot)

Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin.

 

• Penokohan

Tokoh-tokoh penting dalam cerpen ini ada empat orang, yaitu tokoh Aku, Ajo Sidi, Kakek, dan Haji Soleh
(a) Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain.
(b) Ajo Sidi adalah orang yang suka membual

(c) Kakek adalah orang yang egois dan lalai, mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain.

(d) Haji Soleh yaitu orang yang telah mementingkan diri sendiri. 

• Sudut Pandang

Di dalam cerpen ini pengarang memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku.

 

• Gaya bahasa

Di dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. Gaya bahasanya sulit di pahami, gaya bahasanya menarik dan pemilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa dalam hal bidang keagaman.

 

UNSUR EKSTRINSIK :

·    Nilai sosial

Kita harus saling membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dalam cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.

·    Nilai Moral :

Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina orang lain tetapi harus saling menghormati.

·    Nilai Agama :

Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.

·    Nilai Pendidkan :

Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.

·    Nilai Adat :

Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai- nilai dalam masyarakat.

 

HAL-HAL YANG MENARIK

1.       Surau tidak difungsikan, anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain berbagai macam kesukaan, dan perempuan sering mencopoti papan atau lantai di malam hari untuk dijadikan kayu bakar. Bersikap masa bodoh dan tidak memelihara sebagai mana mestinya,

2.       Bualan Ajo Sidi tentang kejadian di neraka membuat si kakek akhirnya muram dan akhirnya bunuh diri.

3.       Seorang laki-laki menikah dan hanya mengabdikan hidupnya sepanjang hari di surau tanpa memikirkan hidup duniawi harta ataupun kekayaan, dan melalaikan tugasnya sebagai seorang suami dan seorang ayah.

4.       Taat beribadah saja, membiarkan negara kacau balau, melarat, hasil bumi dikuasai negara lain tanpa memikirkan kehidupan anak cucu, pemalas dan  tidak mau bekerja,

5.       Melakukan perbuatan sesat dengan cara bunuh diri,

6.       Ajo Sidi tidak ikut melayat orang yang meninggal akibat bualannya, hanya berpesan agar dibelikan kain kafan 7 lapis sedangkan dai tetap pergi bekerja.

Cerpen "Siluet Senja"

Cerpen lama yang menyentuh hati,

SILUET SENJA

Oleh: Fanny Yusuf Irawan

 

Kubaca sekali lagi deretan nama-nama yang terpajang di kertas pengumuman itu. Sama saja. Tetapi tidak ada namaku tertulis di sana. Tidak ada satupun susunan huruf yang menyatakan bahwa Ali Husna, siswa kelas IIB lolos seleksi. Bahkan, di daftar pemain cadangan sekalipun.

            Wajahku menegang. Dadaku menggelegak, geram. Tanganku mengepal dan serta merta kupukul papan pengumuman itu hingga bergerak. Ku tak peduli dengan beberapa pasang mata di tempat itu yang menatapku heran. Segera aku berlalu dari aula student center dengan telapak tangan mulai terasa berdenyut, nyeri. Tapi perasaan sakit justru lebih terasa di sini, di hati. Aku terbuang dan aku marah. Namun, aku tidak tahu harus kulampiaskan pada siapa, yang juga pantas aku persalahkan dalam hal ini.

            Hilang sudah. Tidak ada lagi harapan. Apa yang kuperjuangkan semua ini percuma saja. Semua cuma sampah. Makiku dalam hati. Nafasku tersengal tak beraturan menahan hempasan emosi, seiring debam jalanku menyusuri koridor sekolah.

            Selepas tikungan, kuperlambat langkahku kemudian kududuk menyandar di deretan bangku panjang depan ruang perpustakaan. Lorong-lorong sekolah sudah mulai sepi dari suara-suara penghuninya. Hingga dentang jam sebanyak empat kali yang terdengar lama di ujung gang ruang kelas memecah kesenyapan dalam lamunanku. Tidak ada siapapun di sini, selain beberapa anak yang berdiri bergerombol di samping ruang OSIS, sebelah barat pintu laboratorium biologi yang berbatasan dengan perpustakaan ini. Aktivis-aktivis SMU 1.

            Sementara jauh di depan sana. Di seberang lapangan upacara. Di halaman sport hall sekolah, masih dapat kulihat sosok pak Dirman, guru olah raga sekaligus pelatih ekskul bola basket kami. Dia berjalan mondar-mandir dan nampak berteriak-teriak memberikan instruksi pada tim basket sekolah. Latihan perdana menghadapi kompetisi bola baket antar SMU sekodya dimulai hari ini. Dan, namaku tidak tercantum.

            Kulemparkan saja tas sekolahku hingga buku-buku di dalamnya berhamburan di lantai sesampaiku di kamar. Aku duduk di tepi kasur tanpa ranjang yang berseprei penuh dengan ornamen bunga matahari berwarna kuning.

            Pandanganku nanar menatapi benda-benda yang menjadi bagian dari kamar ini. Di atas pintu, menempel ring basket kecil dengan papan pantul berwarna biru. Sementara di sudut kamar tergantung kaos tim Atlanta Hawk dengan nama Sharif Abdurrohim di punggungnya. Pemain favoritku. Yang tiap kali kupandangi dialah selalu mengingatkanku pada semangatnya. Semangat bertanding seperti dia di NBA di sisi lain kamar ini. Di bawah kaligrafi bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim dengan khas bergaya Arab khufi, terpasang foto berbingkai kayu itu terdapat gambarku mengenakan seragam basket diapit papa dan mama yang memegang bola. Kenangan itu, selalu ada dibatinku. Di atas meja belajar nampak pula beberapa majalah olahraga berjajar memenuhi rak buku. Sunyi.

            Aku mendesah. Rasa kesal itu belum hilang. Kurebahkan tubuhku dan kucoba memejamkan mata. Namun, yang terlintas dalam benakku Cuma sebuah bayangan menakutkan. Bayangan tentang diriku sendiri. Ini tidak adil. Benar-benar tidak adil.

            Basket adalah obsesiku. Aku ingin menjadi pemain profesional. Hingga tak pernah kuluangkan waktu seharipun tanpa berlatih. Mama dan papa selalu memberiku dorongan. Sesibuk apappun, mereka selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan aku ditiap pertandinganku. Aku masih ingat, dulu papa pernah berucap:

“Raihlah, bila itu keinginanmu. Dengan usahamu sendiri. Tapi ketahuilah, itu semua bukanlah perjuangan dalam semalam.”

            Kucoba buktikan perkataan beliau, sedari SMP, lapangan basket merupakan ruang kelasku yang kedua. Di sana aku belajar. Belajar tantang banyak hal. Kuakui, sedikit banyak kudapatkan sesuatu yang baru dari sana. Juga tentang keyakinan ini. Keyakinan yang membuat aku begitu yakin akan mampu menjadi yang terbaik. Sampai kenyataan ini membenturku. Kenyataan yang baru kusadari setelah hari, minggu, bahkan dalam hitungan tahun terlewati, saat kucoba untuk mewujudkan bagian dari impianku, ternyata cuma untuk turut serta dalam kompetisi bila basket antar SMU pun aku tidak mampu. Pecundang.

            Aku mendengus keras. Pasti ada yang salah. Ya, pasti. Akulah kesalahan itu. Aku yang tak bisa berlari cepat. Aku yang tak mampu melompat tinggi, juga gerakanku yang tidak segesit mereka.

            Aku menerawang. Ini pasti karena aku terlalu gemuk. Postur tubuhku pun tidak ideal bagi seorang pemain basket. Tapi, ini tidak fair. Sangat tidak adil. Mengapa harus aku. Mengapa musti aku yang bertubuh gendut. Bukan mereka. Entah darimana datangnya, tiba-tiba kurasakan kebencianku membuncah. Kebencian irrasional. Aku mulai membenci tubuhku sendiri. “Tuhan tidak adil” pekikku tertahan.

            Bola melambung dan membentur papan. Meleset. Sudah yang kesekian kalinya shootingku tidak akurat. Bola kini berpindah tangan. Bang Andre mendrible. Ia menunjukkan kemampuannya sebagai pemain inti tim basket fakultas di kampusnya. Tubuhnya melayang sesaat, kemudian ia sudah bergelantungan di ring. Sempurna.

            Kuambil bola dan kembali kucoba untuk menembakkannya ke ring. Terlalu pelan. Hingga hanya menyambar jaringnya saja.

            “hei...ada masalah?” Aku tersentak. Masalah, batinku. Masalahnya adalah aku. Aku yang terlalu gemuk hingga gerakanku lamban. Coba, andai aku bisa lebih kurus, aku pasti bisa segesit itu, lompatanku pasti juga akan lebih tinggi. Lagi-lagi bayangan itu muncul kembali. Kebencian menyeruak menutupi benak hingga tersisa Cuma rasa benci.

            “Dari tadi aku perhatikan permainanmu jelek. Kenapa, kamu sakit?”

            Tangan kekar itu menyentuh bahuku.

            “Ah...tidak. tidak, Bang Cuma...”

            “Cuma apa?”

            Aku mendesah. Kumainkan bola basket di tangan dan membiarkannya berputar-putar di ujung jariku. Ku edarkan pandangan mengitari lapangan. Lapangan basket yang hanya berjarak tiga blok dari rumahku. Sepi, sesepi hari yang lain.

            Di sini cuma ada aku dan bang Andre, dialah satu-satunya penghuni blok F di perumahan ini yang kukenal. Aku yang kuper atau para penghuninya terlalu individualis. Entah.

            Sejenak aku duduk terpekur di lantai lapangan. Kemudian meluncurlah dari mulutku semuanya. Kuceritakan padanya tentang keinginan, perjuangan selama ini juga tentang kegagalan itu. Kegagalan yang tidak semestinya ada. Karena kata gagal tak pernah aku jumpai dalam kamus hidupku.

            Bang Andre menatapku. Lama sekali. Hingga membuatku jengah.

            “Husna, kita duduk disana.” Katanya sambil menunjukkan sepetak tanah kosong tidak jauh dari lapangan. Sepetak tanah yang berbatasan langsung dengan areal persawahan di tepi luar perumahan.

            Aku bangkit. Kuikuti saja langkah bang Andre yang meninggalkan jejak bayangan panjang dari tubuhnya yang tertimpa cahaya matahari sore. Keheningan melingkupi hingga kebisuan menebarkan pesonanya di antara pucuk-pucuk padi hijau yang berayun tersapu angin di depan sana.

            Kulirik sosok yang duduk di sebelahku. Rambut sebahunya berderai diterpa angin. Masih saja mata yang tajam itu terpaku menatap redup matahari di ujung langit. Petang selalu mengagumkan. Batinku, bulatan besar berwarna merah di cakrawala dibayangi langit jingga dengan siluet awan keperakan. Distorsi warna biru kelabu berbaur jingga seperti menjadi harmoni. Pada lukisan langit senja.

            “Husna, kau lihat itu...?” katanya tanpa menoleh ke arahku.

            “ya....,”

            “Indahkah itu semua...”

            Kucoba memahami pertanyaannya. Indah. Tentu saja. Sangat indah bagiku. Dan dia pun tahu itu. Sering aku memergoki dia sedang menatap langit sore dari loteng rumahnya. Kurasa, ia pun menikmati indahnya horizon saat sore.

            “Seperti apakah warnanya...?”

            Pertanyaan filosofis. Semua tahu warna langit senja. Harmoni dalam matahari merah di antara siluet awan membentuk sketsa abstrak. Sketsa berwarna jingga.

            “Maksudnya...?” Aku berbalik bertanya.

            Bang Andre tertawa kecil. Ia rebahkan badannya dan menatap lepas ke atas. Ke langit yang belum sepenuhnya gelap.

            “Aku tidak pernah bisa merasakan indahnya kesempurnaan warna-warna, pun dari langit senja ini.” Ujarnya pelan seperti berbisik.

            Aku makin tidak paham. Bicara apa dia.

            “Tapi pernahkah kau melihat aku mengeluh...?” sesaat ia menoleh ke arahku.

            “Pernahkah menyaksikan aku menyalahkan atas apa yang menimpaku atau sampai berpikiran sempit dengan menganggap Allah itu tidak adil?”

            Aku tertohok. Namun, apa sebenarnya maksud pembicaraan ini. Ia menarik nafas dalam.

            “Aku menderita buta warna.” Ucapnya datar.

            Namun membuatku terhenyak. Lidahku mendadak kelu hingga terasa sulit untuk kembali bersuara. “Bu...buta warna...” desisku. Terbayang olehku menatap remang layar dunia bertirai keterbatasan warna.

            “Namun, aku tidak marah atau merasa perlu meratapinya. Tidak, tidak akan. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Bersyukur, itu saja. Aku masih dikaruniakan banyak keindahan. Termasuk hingga detik ini masih dapat kusaksikan anggunnya senja. Dalam siluet.”

            Badanku tersentak. Kusarankan sesuatu menjalari tubuhku.

            “Husna...” ucapnya kemudian. Lirih. “Seperti apapun hidup, syukurilah. Pahami dalam setiap rangkaiannya pasti ada makna. Sebab tak ada yang sia-sia di dalam hiduku, hidupmu juga kehidupan ini.”

            Perasaan aneh seperti menderu di kedalaman relung jiwa. Rasa berdosa seolah telah menamparku. Aku tertunduk lemah bak kehilangan tulang penyangga tubuh. Tiba-tiba aku merasa sangat inmgin menangis. Sangat ingin menumpahkan airmata penyesalan ini pada sebuah sujud panjang.

            “Astagfirullah...” gumamku terpatah-patah. Terlalu lirih mungkin desahku itu hingga seperti hilang tertelan desir angin petang.

                                                                           

Annida, Nomor 26/XI/25 September 2002